Syukurlah Suami Saya Tidak Kehilangan Motornya

Selang dua hari setelah menjalani prosesi wisuda, saya bertemu dengan teman-teman. Sedikit-sedikit mengalirlah cerita pengalaman saya itu. Tapi kemudian ada satu hal yang membuat saya terperangah, cerita seorang teman tentang wisudanya yang berlangsung kurang dari 2 bulan lalu “itu adalah wisudaku yang paling menyedihkan” (sebenernya kalimat ini kurang tepat karena teman saya baru mengalami 1 kali wisuda, jadi dia seharusnya tidak memiliki kapasitas membandingkan, tapi sudahlah saya kutip saja).

Saya selain tidak tahu alasannya, juga terperangah karena baru tahu kalau dirinya juga belom lama ini di wisuda (duh, ga caring bener ya gw). Tanpa saya bertanyapun teman saya melanjutkan ceritanya. “iya..udah motor suamiku ilang, ibuku juga sedih banget, ga bisa senyum sama sekali, sampe kita-kita akhirnya ga foto. jadi, aku ga ada foto wisuda sama sekali”

Sayapun lebih terperangah lagi, karena saya baru dengar kabar motor suami teman saya itu hilang, dan saya menemukan ekspresi yang tidak kaget di wajah teman-teman saya. Ternyata, hal ini memang sudah pernah dibahas “Lho, pemi belum tahu ya? kan udah pernah diceritain, ohiya, waktu itu pemi lagi piknik ke taman bunga sih” . “terus ibumu kenapa sedih? karena motor suamimu ilang?”. “bukan,” kata teman saya “ibuku inget bapak”

Ya Robbana, saya dapat benang merahnya..teman saya ini, ayahnya meninggal tepat pada hari raya idul fitri tahun kemarin, di tengah persiapan pernikahannya juga. Akhirnya saya paham kenapa ibunya merasa sedih. “dulu, waktu aku terima rapot aja bapak cium jidatku, gimana kalo aku di wisuda? ibuku kepikiran itu terus, makanya jadi sedih banget, sampe di foto aja udah ngga niat, malah nangis terus, akhirnya kita semua pulang aja”

Yang juga menyedihkan selain ketidakhadiran ayahnya di wisuda adalah ketidakhadiran suaminya juga “mas xxx tadinya mau nganter, tapi akhirnya jadi ngurusin surat-surat kehilangan motornya di kantor polisi, mana besoknya kan dia mau ujian”.

Wisuda kemarin itu, memang tidak bisa dibilang bersih dari riak-riak, tapi, yah, harusnya anggaplah itu bumbunya kehidupan, yang sebenarnya biasa saya temui. Saya yang sempat kapok dan bilang “tahun depan gw ga mau begini-ginian lagi” jadi diingatkan, bahwa seharusnya saya bersyukur, masih ada orang tua yang mendampingi saya. Saya, masih diberi kesempatan oleh ALLAH SWT untuk memperlihatkan kepada ayah dan ibu prosesi wisuda, yang saya yakin membuat mereka bahagia. Dan, kalau mereka mau, dan ALLAH beri kesempatan, biarlah saya lakoni lagi tahun depan. Juga satu hal yang saya perlu syukuri adalah tidak adanya kejadian suami kehilangan motor di hari saya di wisuda 

Ayo bersyukur lagi bu….

Advertisements

21 thoughts on “Syukurlah Suami Saya Tidak Kehilangan Motornya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s