Mau Nikah?! Kan Saya Ngelamarnya Cuma Bercanda..

Tentang betapa bahayanya lisan, kita semua pasti familiar. Bahwa lisan yang kita miliki ini, seperti harimau, bisa menerkam kita sendiri. Apalagi ketika banyak digunakan, maka semakin banyaklah peluang salahnya. Lisan seringkali benar dan membawa kebaikan tapi tidak jarang terpeleset dan menyeret kita ke jurang yang dalam.

Saya ingin fokuskan penggunaan lisan dalam bercanda. Canda bagi banyak orang, akrab sekali dalam kehidupan. Tapi seringkali melenakan dan melahirkan kesalahan.

Suatu ketika ada yang mengatai sebuah kegiatan yang saya buat dengan kata kasar, menurut saya. Sayapun tdak suka dan langsung mengatakannya. Sebenarnya saya tahu bahwa dia hanya bercanda, tapi menurut saya kata-kata itu terlalu menghinakan untuk sebuah candaan. Orang tadi, bukannya minta maaf malah memakai kata yang sama untuk mengatai hal yang saya buat yang lain. Dahsyat. Teman saya yang menyaksikan sampai ikut marah dan angkat bicara. Pada akhirnya, ketika dia menyadari bahwa hal itu benar-benar tidak saya perkenankan, diapun meminta maaf dengan “maafin sih, kan saya cuma bercanda”.

Di lain waktu, saya berkunjung ke sebuah quick note dan membaca komen-komen disana. Seseorang, lagi-lagi dengan maksud sebenarnya bercanda menjuluki sebuah komunitas dengan istilah yang tidak mengenakkan. Saya saja yang bukan bagian dari komunitas itu idak suka membacanya. Salah seorang dari komunitas tersebutpun protes kepada yang bersangkutan. Kemudian si orang yang bercanda tadi (sebut saja A) menanggapinya masih dengan canda, sepertinya bermaksud mencairkan. Tapi si orang komunitas tidak dengan mudah teralihkan. Sebuah harga diri telah tercabik dengan istilah tadi. Saya lihat akhirnya si A tidak komen-komen lagi, mungkin menyelesaikannya via japri, mudah-mudahan. Karena bercanda, sebuah komunitas terluka.

Yang paling hangat adalah beberapa hari lalu. Atas izin ALLAH saya baca note FB seseorang yang sebenarnya ditujukan untuk 1 orang. Si pembuat note merasa sakit hati atas candaan seseorang dan menegurnya dengan menulis note tersebut. Sungguh pelajaran buat saya orang itu sakit hati salah satunya karena dibilang “dodol”. Ringan namun menyakitkan katanya. Ya..sebagaimana tidak semua orang suka makan dodol, maka tidak semua orang pula suka dibilang dodol. Mungkin sebagian dari kita biasa bercanda dengan mengatai teman seperti itu. Namun kenyataannya, kadar sensitifitas orang dengan kata dodol (atau kata lainnya) berbeda-beda. Makanya hati-hati.

Seringkali orang memandang kesalahan karena candaan dapat dimaklumi. Karena memang niat awalnya bukan untuk menyakiti atau menghina, tapi lucu-lucuan atau kebiasaan saja. Jadi minta maafpun sepertinya dianggap enteng betul. Memang sih, segala sesuatu tergantung pada niatnya. Tapi perlu diingat, syarat diterimanya amalpun bukan cuma niat yang ikhlas kan? Jadi janganlah mentang-mentang cuma bercanda semuanya dianggap santai-santai saja. Karena seringkali ketidakmaksudan kita ternyata diterima sebagai maksud bagi orang lain. Dan, saya kadang mikir kalo nemu kasus kaya gini “emangnya kalo cuma becanda semua jadi sah-sah aja ya?”.

Huff..tema bahaya lisan tentu juga tema yang sangat menohok diri saya sendiri. Ayo belajar lagi…

Janganlah kamu berbicara dengan ucapan yang buruk, janganlah kamu sindir menyindir, janganlah kamu membicarakan kabar orang lain (bergosip) dan janganlah sebagian kamu menjual atas jualan sebagian yang lain. sementara itu, jadilah kamu hamba-hamba ALLAH yang bersaudara. (HR Bukhari-Muslim)

Advertisements

59 thoughts on “Mau Nikah?! Kan Saya Ngelamarnya Cuma Bercanda..

  1. saya senang bercanda, apalagi untuk mencairkan suasana yg kaku, hanya liat2 situasi dan kondisi juga, dan tidak menyakiti lawan bicara… krn pada dasarnya manusia itu bisa terluka jika disakiti hatinya dan itu yg sulit dicari obatnya… mari sama2 muhasabah diri. karena lidah memang tidak bertulang

  2. oya, berkaitan dg judul… Saya punya 2 teman (sepintas pernah sy bahas d quicknotes).. Ttg pernikahan atau lamaran yg mjd materi dr candaanya kpd lwn jenis, shingga brdampak mdalam yg tak trlupakan oleh kaum hawa yg mjd korbannya..miris..

  3. super sekali komennya din..itu judul mah sekedar judul..tapi komen nt mantep deh, JKFSkalo gitu, kalo mau nikah jangan main-main, dan yang penting jalan yang diambil juga bukan main-main (ga halal maksudnya0

  4. iihh..siapa bilang? calon gw kenapa intan yang tau?serigala berbuu domba apa musang berbulu ketiak? hahahahaiya tan..aku emang kecil, aku juga kadang berjilbab merah, aku akan berhati-hati, hoho

  5. HIks….kereeen..tapi, ides pernah bilang "dodol" ke orang yang pernah ides sangat benci lho..sejak itu jadi suka ngomong "dodol" dah, tapi buat orang itu aja..subhanalloh, dapet pengingatan dari ludi..*kok pas banget ya sama "dodol" -____-

  6. tapi tapi..ga semua orang marah dibilang dodol ko, hehe, yah liat-liat orangnya ajaberarti konteks dodolnya bukan becanda ya des..karena ke orang yang kamu benci..beda dengan konteks di tulisan ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s