Karena Telor Tetaplah Telor

Saya sedang berfikir, karena beberapa kejadian yang saya alami beberapa waktu terakhir, bahwa ternyata manusia itu susah dikoreksi ya? Yaa..tidak semua sih, tapi banyak. Dan saya jadi banyak mengingat kejadian-kejadian lampau terkait mengkoreksi ini. Apalagi jika kondisinya anda sedang tidak siap atau tidak sedang dalam keadaan meminta dikritik, tidak dalam forum kritik-mengkritik, tapi dalam keseharian biasa, dimana matahari bersinar cerah atau awan berarak riang (maksudnya dalam kegiatan sehari-hari gitu).

Saya pikir, wajar sekali kalau ada manusia yang tidak suka dikoreksi, diperhatikan kesalahannya dan diberitahukan. Meskipun dalam keseharian kita sering mendengar kata “terbuka terhadap kritikan� atau tawaran “tolong kritik aku ya?� dan segenap pernyataan lain. Tapi menurut saya, lagi-lagi ini menurut saya, di awal pasti ada perasaan tidak sreg atau tidak nyaman. Bagaimana tidak? Ada orang lain yang tiba-tiba menyebutkan kekurangan atau kesalahan anda sementara anda tidak menyadarinya, pasti tidak enak.

Dulu ada teman SMA yang terang-terangan bilang “gw ga suka dikiritik!�, saya cuma bisa membatin “trus kalo dia salah ngingetinnya gimana dong?�. Tapi yang kaya dia itu tidak ada lagi, cuma dia seorang. Teman-teman saya yang lain, begitupun saya, biasanya pada akhirnya akan berterima kasih dengan kritik yang sudah dilontarkan. Meski pada awalnya mungkin akan terasa meremukkredamkan perasaan. Seperti ungkapan teman saya berikut “aku pernah dikirtik orang, wuih, sakit banget, abis dikritik rasanya emang sakit tapi abis itu terima kasih banget sama dia karena udah mengingatkan�. Begitu memang seharusnya orang beriman, melihat kritik, koreksi sebagai pemicu perbaikan diri dan kebaikan orang lain padanya.

Beberapa respon yang biasanya dilakukan orang yang tidak sreg dengan koreksi atau kritikan yang diterimanya yang bisa saya simpulkan adalah

Mengungkit-ungkit kesalahan sang pemberi kritik

Bukannya merenungi kesalahan orang ini malah mencak-mencak sambil bilang “halah kaya lo ga pernah aja�, atau “ah, kaya lo sendiri udah bener, lo juga pernah bla-bla-bla�, ‘ngaca dong, gelar sejadah aja belom bisa lurus udah ceramahin orang!�. Enaknya dijawab dengan “telor, meskipun keluar dari pantat ayam, tetaplah telor, kenapa tidak diterima saja, toh dengan menerima kritik ini dan menjalankannya, anda akan bisa jadi lebih baik lagi dari saya, dan lebih beruntung karena bisa makan telorlebih banyak (lah kok?).�

Menyebut-nyebut kebaikan diri sendiri

Merasa tidak terima kesalahan kecil saja dikritik, lantas menyebut “ya ampun, kaya gini aja dimasalahin, padahal saya udah gini-gini-gitu-gitu diem-diem aja�, “ternyata pada mikir gitu ya, saya aja sering ini-itu ga pernah minta di bales�, kadang sampai nangis, sehingga yang ngritik jadi ikutan terharu. Kalau ketemu yang seperti ini sebaiknya bilang “justru, karena selama ini anda sudah baik, kerap melakukan tangan di atas, apa salahnya melakukan kebaikan lain dan menghindari kesalahan ini, agar tangan anda yang di atas semakin banyak, dan
semakin banyaklah kebaikan anda. Lagipula kalo kebaikan diungkit-ungkit nanti pahalanya ilang loh�

Memberi banyak alasan dan cari-cari pembenaran

Bukannya sibuk menginstropeksi, malah sibuk mencari alasan yang bisa dikemukakan. “soalnya saya juga baru tau, udah sebulan saya ngga liat berita, tipi saya cuma bisa buat nonton sinetron doang�, “maklum udah kepepet, ngga ada cara lain, bisa gitu aja udah bagus�, “yaah, kalo ngga gitu kan kamu jadi ngga bisa nasehatin aku�. Susah juga mahluk begini, karena kalau kita jawab, dia pasti kasih alasan lain, jadi kalau saya sudah kehabisan argument nasihat atau kritik, mending ditutup aja dengan “saya cuma sampaikan pendapat, kalau tidak diterima ya sudah�.



Nyolot forever

Ngga banyak basa-basi, apapun kritiknya, minumnya air, bukan lumpur lapindo. Biasanya keluar teriakan atau omelan semisal “ga sempet bung!!!�, “suka-suka gw dong, urusan amat sama lo!�, “berisik amat sih kaya kucing mau kawin�, “emangnya gw kaya gitu salah?!�. Saya pernah ketemu orang yang menurut saya masuk tipe ini, enaknya lakukan pendekatan personal, “maaf mba, saya bener-bener bermaksud baik, bukan lagi memukul genderang peperangan, saya jadi sedih melihat sikap mba yang seperti ini, padahal kalau saja mba mau mendengarkan, pasti akan lebih manis lagi, gimana mba mau coba? Saya juga sediakan menu lain lho mba, cuma 9.900�, tapi liat-liat orangnya, dan pendekatan personal harus dilakukan pada saat, tempat, dan sarana yang tepat.

Diem aja, tapi tidak mendengarkan

………………..

Kalau kaya gini, saya tidak bisa kasih saran, karena kemungkinan kita sendiri tidak tahu kalau dia tidak sedang mendengarkan

Beraninya di belakang, alias diem aja, mendengarkan, tapi tidak terima dan penolakan itu dia bawa ke forum lain dimana kita tidak ada di sana

Yang ini sama dengan yang di atas, saya tidak bisa kasih saran, karena kita mungkin tidak tahu dengan permainan belakangnya. Berdoa saja semoga tidak terjadi dan kita terlindung dari hal-hal yang demikian.

Kritik, itu diperlukan dalam kehidupan. Tapi menerima kritik, tidak semudah yang dikatakan. Apalagi, seperti yang saya bilang di awal, jika kondisinya kita tidak sedang siap dan tahu akan dikritik. Tapi sebenarnya, hal ini bisa diminimalisir jika penyampaian kritik dilakukan dengan cara yang benar. Namun saya tidak sedang ingin membicarakan itu. Saya hanya ingin mengangkat bagaimana sikap kita dalam menghadapi kritik.

Saya cuma bisa berdoa, semoga kita tidak termasuk dalam kategori yang tadi saya sebutkan. Cukuplah kita terpukul dan merasa tersirap darahnya dengan kritik atau koreksi yang masuk. Tapi jangan sampai dibutakan dari apa isi kritiknya. Karena telor tetaplah telor meskipun keluar dari pantat ayam. Lihatlah keluarannya, jangan lihat darimana dia keluar. Karena telor tetaplah telor, meskipun ada di tengah jerami dan bercampur dengan feses atau darah ayam. Lihatlah substansinya, bukan apa-apa yang ada di sekitarnya. Semoga kita bisa jadi orang yang selalu lebih baik dari hari ke hari.

~sungguh tulisan ini juga untuk refleksi diri saya sendiri

Advertisements

21 thoughts on “Karena Telor Tetaplah Telor

  1. pemikirulung said: Semoga kita bisa jadi orang yang selalu lebih baik dari hari ke hari.

    amiiinnn…. ada yang bilang kalo mau kritik tuh bisa pake metode"hamburger"…. roti, daging, roti… jadi puji dulu, kritik, terus puji lagi… Insya Allah lebih nggak nohok langsung ke hati tuh orang yang dikritik…. khuhuhu… teorinya seeeehh…

  2. akuai said: maaph yee klo sering salah tangkep sama sms2 yg lo kasih n_n

    menurutku sih, akan beda hasilnya ketika memberi kritik dgn ketulusan/cinta dengan memberi kritik yg cuma membenarkan

    Di jalan cinta para pejuang nasehat adalah ketulusan

  3. franova said: duluan mana telor sama ayam?

    ayam..inget ga waktu kelas 3 kita pernah bahas ginian sama bu rosita?
    trus pe sempet ngomong juga, ngasi pendapat..

    makasi mel, udah komen (meskipun
    diminta) hehe

  4. budiaridian said: menurutku sih, akan beda hasilnya ketika memberi kritik dgn ketulusan/cinta dengan memberi kritik yg cuma membenarkanDi jalan cinta para pejuang nasehat adalah ketulusan

    wuii..mantap..

    tergantung objeknya juga kayanya deh kang..ibarat kita pasang pemancar, kalo yang bersangkutan ga mau pake antenanya, kan susah juga, kaya orang Quraisy, yang tetap kafir meskipun di da’wahin Rosul langsung, gitu ga sih? yaaa…meskipun ga separah ini sih (belom dapet analogi lain)

    kang budi bikin tulisan cara mengkritik yang baik dong (yang pake ketulusan itu), biar saling melengkapi, hoho!

    di jalan cinta para pejuang, sampe sekarang aku belom kelar bacanya, hehe

  5. budiaridian said: menurutku sih, akan beda hasilnya ketika memberi kritik dgn ketulusan/cinta dengan memberi kritik yg cuma membenarkanDi jalan cinta para pejuang nasehat adalah ketulusan

    hohoho, ketauan juga daku ngutip kalimat terakhir dari om salim xixixi

    tulis menulis saya serahkan pada yg produktif aja ;p

  6. pemikirulung said: tuh kan..baiklah, urusan komen aku serahkan ke yang ga produktif ya..hehehepeace ah..

    Mending mana, disuguhin telor yg baru keluar tanpa dibersihin dulu, atau disuguhin telor yg sudah dihias sesuai dng gambar n warna kesukaan?

    Telor emang tetap telor. Tapi cara penyuguhan akan sangat menentukan..

  7. penjelajahsemesta said: Tapi cara penyuguhan akan sangat menentukan..

    super sekali…

    setuju kakak…

    tapi aku ga lagi membahas cara penyuguhannya (seperti yang kubilang di paragraf sebelum terakhir), aku lagi membahas respon ketika menerima telornya

    kupersilakan kakak untuk menulis bagaimana cara penyuguhannya yang baik, nanti aku pasang link-nya disini, biar jadi lengkap, bagaimana?

    makasi atas komennya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s