Bodoh Karena Malas, Malas Karena Gemuk, Atau Gemuk Karena Bodoh? :p

Pagi ini saya lagi-lagi meracau lewat sms ke beberapa teman saya. Intinya sih keluhan bahwa saya merasa pantas saja kalau dari hari ke hari semakin bodoh saja, karena kemalasan yang tidak terbendung. Yang memblasa hanya 3 orang, tapi salah satunya cukup menarik. “Iya Pe..sama. males gw juga ga ketulungan niy. Ditambah makanan yang banyak mengandung pengawet dan MSG. makin bodoh aja deh”. Sayapun membalas, “plus kerjaan nonton tipi: sinetron, infotainment, acara music. Pembodohaaan”. Teman saya menanggapi lagi dengan “ho’oh tragis bener cara kecerdasan kita berkurang”.

Terlepas dari apakah benar kecerdasan berkurang dengan cara-cara seperti itu dan apakah sebenarnya kami benar-benar melakukan hal-hal di sms itu, saya suka dengan pernyataan terakhir, tragisnya cara kecerdasan kami berkurang.

Sebenarnya, saya ini tergolong anak yang cerdas (entah kecerdasan yang mana di kecerdasan majemuk tapi biarlah saya mengatakan begitu saja) diantara teman-teman di kampung ataupun di sekolah. Yaa..setidaknya saya tidak pernah merepotkan orang tua saya untuk “nyari-nyari sekolahan” setiap akan memasuki jenjang sekolah yang baru, sementara orang tua lain di kampung saya kebanyakan pusing karena anaknya tidak bisa di sekolah negeri. Bisa dibilang sekolah saya mulus-mulus aja. di sekolahpun saya termasuk yang “menengah ke atas” dalam nilai-nilai.

Namun setelah beberapa semester kuliah, saya sudah tidak ingat lagi dengan prestasi dan peringkat saya di sekolah (kesannya peringkat gw bagus ya, padahal ngga juga, hehe). Diperparah dengan turunnya IPK saya terus-terusan dan berbagai kebodohan saya yang lain. Saya sudah tidak lagi merasa pintar, bahkan saya juga sudah lupa rasanya menjadi anak pintar. Padahal (harusnya) saya ini tergolong cerdas, tapi ternyata tidak demikian dengan kepintaran saya. Saya pikir, orang-orang di sekitar saya juga sependapat dengan saya. Terbukti dari survey satu kata tentang saya tentang saya, tidak ada yang menjawab cerdas atau pinter. Begitulah. Mungkin salah satu faktornya adalah cuma dibolehkannya 1 kata, jadi pantas kalau kurang representatif. Dan ternyata, pembawaan saya selama inipun tidak menunjukkan ke arah sana.

Adalah suatu masa dimana saya akhirnya tersadar juga. Sekitar pertengahan semester kemarin, ada 3 orang yang memuji saya. Pertamanya teman SMA saya, chat di FB. Dia yang sedang menempuh kuliah S2-nya bertanya bagaimana dengan aktivitas saya. Saya jawab bahwa saya masih berjuang untuk menyelesaikan S1 dan saya tambahkan soalnya saya sempat tertunda satu tahun untuk kuliah. Dia bilang pada saya “lo kan padahal lebih pinter dari gw”. Orang kedua adalah tetangga saya, waktu kami mengobrol tentang kuliah dan aktivitas kami masing-masing yaitu penelitian.saya lupa awalnya gimana tapi tetangga saya itu bilang “ah lo sih pinter mba, pasti gampang ngerjainnya”. Orang ketiga adalah teman sekelas saya, tanpa disangka dia komen di note FB saya dengan “kamu itu sebenernya pinter Di”. Sebenarnya sederhana, atau terlihat basa-basi? Tapi buat saya, yang sudah lama tidak lagi merasa pintar seperti diberi sebuah izin untuk mengembalikan perasaan yang pernah ada dulu itu ke ruang-ruang pikiran saya. Tiga percakapan yang terjadi dalam rentang waktu dekat itu, sungguh membuat saya berkata pada diri sendiri “iya..ya..gw kan sebenernya pinter” dan semangat sayapun tersulut.

Sampai disini, apakah anda berpikir bahwa saya ini remaja dengan krisis PD? Tidak juga sih, karena selain saya bukan remaja lagi (cucu gw pasti ga terima), saya juga Cuma merasa tidak pintar kok. Saya masih menganggap punya kelebihan yang lain, dan kalau anda ingin tahu apa, saya akan ambil timbangan di kolong lemari saya dan menunjukkannya jawabannya langsung dengan pembuktian. Hahaha

Balik lagi ke cerita pagi ini, setelah hari-hari yang saya jalani terakhir. Setelah kemalasan dan pengabaian yang dilakukan kepada sel-sel kelabu otak. Dengan modal yang sudah diberikan ALLAH pada saya, maka seharusnya saya tidak membiarkannya berkurang dengan tragis begitu. Seperti kata pepatah, rajin pangkal pandai, dan aki sering bilang malas pangkal bodoh. Maka sebenarnya, kebodohan yang rasanya semakin menumpuk ini dan kepandaian yang semakin menjauh pergi sebabnya tak lain dan tak bukan adalah kelalaian dan kemalasan diri sendiri. Oleh karenanya wahai anak muda, nyalakan semangatmu dan usir malasmu!

Advertisements

22 thoughts on “Bodoh Karena Malas, Malas Karena Gemuk, Atau Gemuk Karena Bodoh? :p

  1. ohiya bener ka, ada kecerdasa majemuk, maklum itu kan tesnya udah sekitar 6 tahun lalu..kayanya saat itu belom terlalu populer (apa aku yang ga tau ya?)ya..berarti kelebihanku apa dong? huhumakasi ka, ku edit ah tulisannya

  2. aku pernah diceritain dosen bahwa ada survey ttg anak yg masuk PTN ternama, bahwa mereka sebagian besar adalah anak2 yg masuk peringkat atas waktu SD dan SMP, ini bukti klo mereka udah punya potensi cerdas,,,tapiii…belom tentu bisa mulus melaju di SMA dan PT,,,,belum tentu pencapaian akademiknya as good as waktu mereka sd dan smp.*sigh..*

  3. yaelah om..tadinya di sini aku tulis IQ ku berapa (kayanya lebih besar dari omali), cuma, setelah ada komen ka iman itu, aku edit, kuapusin yang ada IQnya, karena merasa IQ bukanlah hal yang bisa dibanggakaneh dia malah nulis ginian….

  4. 1. menanggapi postinganmu kak, kau bukan remaja lagi.2. mnanggapi postingan kek iman: tpi knapa sampe skrg kbnyakan org cerdas yg sya temui jg ber-IQ tinggi?bhkan wktu itu sya smpat masuk kelas akselerasi cmn krna IQ saya,,3. mnanggapi postingan KekBuyut Ari Ganjen Sekali:sombong banget kau, Kek?ckckck.*jadi pengen nunjukkin hasil tes IQ*4. tanggapan mengenai judul:kayaknya gendud yg tidak beraktivitas yg pangkal bodoh.hehe.*merasa mjd org gendud yg masih beraktivitas dn brharap nenek jg sama*

  5. @intan:Di negeri asalnya, tes IQ sudah menjadi barang usang yang terbuang. Tes IQ yang hanya mengukur kecerdasan logis-matematis dan linguistik saja. Sedangkan kecerdasan visual-spasial, kinestetis, musikal, naturalis, interpersonal, dan intrapersonal terlupakan.Mengenai orang2 cerdas yg intan tahu ber-IQ tinggi, mungkin karena pergaulan intan hanya dng orang2 yg homogen. Coba intan sekali2 brgaul dng musisi dan merasakan kecerdasan musikal mereka. Atau bergaul dng komikus dan merasakan kecerdasan mereka. Atau bergaul dng politisi dan merasakan kecerdasan interpersonal mereka. Mereka bukan orang2 ber-IQ tinggi, tapi mereka memiliki kecerdasan masing2 yang diperlukan dalam kesuksesan hidup mereka..

  6. Mengenai kelas akselerasi, itu adalah kesalahan paradigma sistem pendidikan kita yang terlalu menekankan pada kecerdasan logis-matematis dan linguistik saja. Makanya, orang yang sukses dalam pendidikan, blm tentu sukses dalam hidup. Sedangkan banyak orang yang putus sekolah justru mnjadi orang sukses dalam bidangnya masing2..

  7. @ menjadiyanglebihbaik1. betul tan, bahkan aku tak pernah remaja, hehe2. pantas sekali kata-katamu Tan, IQku juga tinggi, tapi sekarang aku malu untuk membanggakannya3. biar saja Tan, namanya juga kakek, suka membanggakan diri sendiri..(IQ dia 1 poin diatas aku Tan, hoho)4. tidak juga Tan, tergantung aktivitasnya apa, gendut beraktivitas nonton sinetron juga ga bikin pinter Tan*merasa masih beraktivitas, apa aktivitasnya, perkara belakangan*

  8. @penjelejahsemesta (ngikutin Nenek, ga manggil nama)keren kak.baru tau aku.*manggut2*oke2.aku akan coba menjalankan saranmu kak.*mulai nyari pemusik, komikus dan pulitikus*

  9. kalo aku sih lebih suka begitu, soalnya nama yang komen disini kan munculnya id nya, kalo aku nyebut nama, nanti yang ngerti aku doang, padahal siapa tau orang lain juga pengen tau gimana tanggapanku juga, atau interaksi kita, kali aja jadi share info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s