Soleh Kaya Ustadz, Cerdas Kaya Habibi, Tapi Asik Kaya John Pantau

Kalau anda mengenal om carrot dan cukup sering mengunjungi blognya, maka mungkin anda akan tahu blog istrinya juga. Karena memang si om ini sering sekali memberi link blog istrinya agar orang-orang mampir kesana. Dan kalau anda pernah mampir ke site istrinya juga dan melihat-lihat guestbooknya, maka anda akan menemukan banyak sapaan dari teman-teman om carrot pada istrinya itu dengan “ini istrinya carrotsoup ya?”, atau hal-hal semacam itulah. Salah satu komen GB yang menjadi salah satu penyebab saya mengangkat tema ini adalah komen yang disampaikan aki kelinci (anda tidak perlu repot-repot kesana, akan saya kutip disini) yang bunyinya “salam kenal bu..menyenangkan bisa mendapatkan suami yang super kocak..”

Saya membicarakan hal ini bukan bermaksud untuk ngomongin kelinciputih yang sudah-lama-tidak-ngeMPi-sehingga-namanya-disebut-sebutpun-dia-ga-bakal-nayadar ataupun mempromosikan carrotsoup yang masih-selalu-ngeMPi-sehingga-kalau-diomongin-besar-kemungkinan-dia-akan-segera-nyadar sebagai seorang suami yang menyenangkan, karena selain saya tidak sepenuhnya sepakat dengan aki kelinci, om carrot itu, tanpa dipromosikanpun dia kerap mempromosikan diri sendiri.

(Sudah, sudah, ngomongin 2 perusuh itu cukup 2 paragraf saja, kalau kebanyakan tidak baik untuk kesehatan.hehe)

Kata-kata aki itu, mengingatkan saya akan sebuah fakta menarik di sebuah buku. Di buku “Why Men Don’t Listen And Women Can’t Read Maps” terdapat sebuah hasil jajak pendapat dari 15000 pria dan wanita berusia 17-60 tahun tentang apa yang dicari pria dan wanita dalam pasangan seksual jangka panjangnya (bahasa bukunya begitu). Berhubung ini buku yang nulis orang barat sonoh, maka kalau saya terjemahkan sesuai budaya kita mungkin menjadi, apa yang dicari seorang pria dalam istrinya dan sebaliknya. Ternyata dari 5 hal, di masing-masing daftar disebutlah rasa humor. Bagi wanita ada di urutan ke 2 sedangkan bagi pria ada di urutan ke 4.

Menarik, karena ternyata banyak orang memandang rasa humor itu penting keberadaannya dalam diri pasangan. Menurut sayapun begitu (ehm.ehm.uhuk.uhuk). Kalau saya pribadi, tidak suka dengan orang yang terlalu kaku, serius, tidak pernah becanda atau mungkin basa-basi barang sedikit saja. Saya, biasanya, merasa senang ketika menemukan sisi humoris pada diri seseorang. Aapalagi kalau selama ini saya menganggapnya sebagai sosok yang serius. Biasanya saya akan merespon dengan “eh, ga nyangka ternyata dia bisa ngelucu juga”. Hoho

Mirip-mirip dengan yang terjadi pada ustadz bahasa arab saya. Penampilannya sangat sesuai dengan apa yang selama ini saya persepsikan sebagai “ikhwan”. Kurus, tinggi sedang, rapi, celana agak cingkrang, berkacamata (sayang saya tidak tahu rambutnya belah pinggir atau tidak, karena beliau selalu mengenakan peci), tidak ketinggalan pula karakter sikap tawadhu, sabar dan menjaga pandangan. Ehehehe..jaman saya masih bocah dulu, dalam persepsi saya kalau ikhwan ya begitu tampilannya. Si ustadz soleh ini, yang bahkan sampai sekarang saya tidak tahu namanya, suatu hari beliau bercanda. Saya tidak ingat persis apa candaannya, yang pasti bukan cerita lucu atau ngejayus tidak jelas. Hal sederhana saja, tapi mampu membuat saya (gatau deh kalau peserta lainnya) tertawa dan seketika penilaian saya terhadap ustadzpun bertambah “hebaaaat..ustadz ternyata bisa becanda juga…”

Tidak ada salahnya bergurau dan becanda dalam keseharian. karena menurut saya, kita ini perlu sedikit menambahkan komposisi humor dalam kehidupan. RosuluLLOH dan para sahabat juga pernah bercanda dan bergurau, tentu dengan kadar dan adab yang benar. Jangan samakan dengan candaan manusia-manusia jaman sekarang.

Perlu diingat, kita perlu tetap bijak dalam memandang gurauan ini dan meletakkannya dengan porsi yang pas dalam kehidupan kita. Contoh mudahnya begini, kalau saya, suka menonton acara lawak di TV, saya juga suka becanda dan bersenda gurau dengan teman-teman saya tapi saya sangat tidak suka mendengar ceramah dari ustadz yang melulu melucu. Malas sekali (bahkan menjurus ke enggan) saya menyimaknya, sebentar-sebentar melempar guyonan dan membuat audiens tertawa. Ah, buat saya majelis ilmu tidak pantas diperlakukan begitu. Lempar guyonan sekali-sekali saja lah, ketika audiens sudah terlihat bosan dan mengantuk misal.

Humor bagi saya seperti garam pada masakan. Semua masakan perlu garam biar sedap. Bahkan pie yang manis saja perlu diberi garam sedikit biar lebih enak (saya tahu dari TV). Tapi garam yang terlalu banyak bisa jadi bencana. Alih-alih bikin sedap, malah bikin eneg penikmatnya.

Maka ketika saya bertemu seseorang, yang menurut saya selalu becanda, selalu menaggapi perkataan saya dengan gurauan, saya bertanya padanya “becanda terus, ga pernah serius ya?” dengan nada yang -sebenarnya- sedikit sinis. Karena bukan begitu seharusnya kejayusan dimainkan. Hasan Al Banna saja berwasiat agar kita tidak bergurau karena umat yang berjuang hanya mengenal keseriusan. Dalam hidup ini, kita sedang berjuang bukan? Apalagi kalau anda membaca buku “Tertawa Yang Disuka, Tertawa Yang Dibenci ALLAH”. Kalau saya, setelah membaca buku ini, jadi takut dan merasa tidak pantas untuk tertawa lagi (tapi setelah baca buku ini doang, harusnya saya baca setiap hari ya biar terus ingat).

Segala sesuatu, termasuk becanda, memang harus ditempatkan dengans esuai kalau mau baik efeknya. Seperti seorang kawan yang saya suka berteman dengannya, cerdas jika diajak diskusi, empati jika diajak berbagi, menyimak jika sedang dicurhati, tapi juga memiliki gurauan-gurauan ringan nan menyegarkan yang suka dia lontarkan di saat yang tidak disangka-sangka. Ah, menyenangkan. Yuk, kita takar lagi humor dalam keseharian kita, agar pas komposisinya.

”Siapa yang banyak tertawa sedikit wibawanya dan siapa yang bergurau maka ia akan diremehkan.” Umar bin Khattab

*lagi belajar untuk ga kebanyakan hehe-hehe*

Rujukan:
Pease, Allan dan Pease, B. 2007. Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps. Mengungkap Perbedaan Pikiran Laki-laki Dan Perempuan Agar Sukses Membina Hubungan. Jakarta: Ufuk Press
Majid, Abdul. 2004. Tertawa Yang Disukai, Tertawa Yang Dibenci ALLAH. Jakarta: Gema Insani Press

Advertisements

31 thoughts on “Soleh Kaya Ustadz, Cerdas Kaya Habibi, Tapi Asik Kaya John Pantau

  1. perhatian: setelah sebelumnya saya menutup blog ini dengan mengutip hadis yang saya dapat dari buku yang sudah saya tulis di daftar rujukan, dikarenakan tidak jelasnya riwayat hadis tersebut, dan saya juga tidak menemukan sumber lain yang menjelaskan hadis itu riwayat siapa, akhirnya saya hapus dan saya ganti dengan mengutip perkataan Umar bin Khatab saja yang saya dapat dari sinimengenai gambar, setelah ada yang bilang bahwa gambar yang saya pasang porno, akhirnya saya hapus saja gambar tersebut dan tidak saya ganti dengan gambar lain karena sampai sekarang saya belum nemu gambar yang bagusbegitulah ralat yang saya lakukan. atas perhatian dan kunjungan anda ke blog ini, saya ucapkan terima kasih dan Jzk n___n

  2. oooooo aku salah disini nih ka,,aku kira pak carrot yang ngasih komen di GBnya kelinci putih..ternyata kelinci putih yang ngisi comment di GB istrinya pa carrot..makanya kupikir kelinci putih istrinya pak carrot :Pakhirnya nemu juga ni tulisan 😀

  3. hehehe..betapa aku berharap baik wortel maupun kelinci membaca tulisanmu ini, pasti mereka tersipu-sipu bahagia :pyaya..ini mah bukan tentang headshot neng, makanya dicari pake search engine ga ketemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s