Kabel Merah Atau Kabel Biru?! Buruan!

Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS Al-lsra'[17]: 85).

Banyak yang bilang hidup adalah pilihan. Saya sendiri tidak terlalu paham (dan setuju) dengan kalimat ini. Saya lebih memilih pernyataan “dalam hidup kita senantiasa dihadapkan pada pilihan”. Sepanjang peran kehidupan yang kita lakoni ini, kita banyak bertemu dengan kondisi-kondisi yang mengharuskan kita untuk menentukan pilihan. Meskipun sering juga, kita dihadapkan pada kondisi “mau tidak mau”, tidak ada pilihan di sana.

Memilih, tidak selamanya mudah. Seperti adegan di film-film, ketika sang pemeran utama diharuskan untk memilih, memotong kabel merah atau biru demi mencegah sebuah bom waktu meledak. Yup, kabel merah atau kabel biru, sungguh pilihan yang sulit, setidaknya itu yang berusaha digambarkan oleh sang sutradara. Begitupun buat saya, menentukan sebuah pilihan, kerap menjadi hal yang berat, serba salah, dan menyita banyak waktu serta pikiran.

Namanya juga memilih, artinya anda dihadapkan pada lebih dari 1 hal yang masing-masing membawa konsekuensi tersendiri bagi anda. Dan disitulah arti penting kegiatan ini, yakni mendapat hal yang lebih banyak membawa kebaikan dan sedikit keburukan dibanding hal lainnya. Kebaikan dan keburukan ini bervariasi, bisa fatal, agak fatal, sedikit fatal, atau bahkan tidak fatal sama sekali.

Lantas apa mendukung keberhasilan seseorang dalam memilih dengan tepat? Ilmu atau pengetahuanlah jawabannya. Pilihan menjadi tepat ketika kita tahu secara pasti, holistik dan komprehensif, mengenai masing-masing pilihan dan konsekuensi dalam memilihnya. Dan inilah yang membuat pekerjaan memilih kerap menjadi pekerjaan berat, karena kita, manusia, seringkali tidak tahu secara pasti apa yang sebenarnya baik buat kita dan yang tidak. Karena ALLAH tidak memberi pengetahuan pada kita manusia, kecuali sedikit.

Seperti sebuah film mandarin, di ending filmnya si jagoan kembali disuguhkan bom waktu oleh penjahat. Ketika dirinya sudah memutuskan untuk memotong kabel yang mana, berdasarkan pengalaman kegagalan sebelumnya, dia menemukan sebuah hal penting. Terdapat kabel emas yang tipis dianatara 2 kabel itu, dan, bingo! kabel emas itulah pilihan tepatnya. Bom berhasil dijinakkan, tidak jadi meledak, tidak ada korban jatuh. Sebuah pengetahuan baru yang datang tepat waktu untuk sebuah pilihan yang menyelamatkan. Tapi itu ada di film. Dalam kehidupan nyata? tidak semudah itu bung!

Kalau begitu, susah benar ya jadi manuisa, harus memilih untuk kebaikan hidupnya sendiri tapi perangkatnya dalam mengeksekusi pilihan masih kurang lengkap. Terus terang, perkara memilih ini memang sering menyulitkan saya. Termasuk beberapa fenomena yang saya temui beberapa bulan terakhir. Ketika sebuah kereta yang saya tumpangi, yang melaju bersama serangkaian gerbongnya dan tiba di sebuah persimpangan. Ternyata beberapa gerbong tidak mau ikut dengan lokomotif, memilih untuk diam atau bahkan mengambil jalan lain. Sebuah pilihan yang harus saya ambil, melaju dan ikut lokomotif, diam, ambil jalan lain, atau turun di stasiun terdekat dan berbalik pulang.

Dan saya menyadari bahwa pengetahuan saya lemah dalam hal ini dan jadi khawatir pilihan saya bukanlah berdasar pengetahuan tapi hanya perasaan, ikut-ikutan, atau bahkan saya sebenarnya tidak memilih, hanya terdesak dan terdorong oleh gelombang sehingga akhirnya ikut melaju tanpa kuasa menolak.

Akhirnya saya banyak berfikir tentang orang-orang sholih, yang pernah singgah di muka bumi ini. Orang-orang yang memiliki jendela bashiroh begitu jernih sehingga melahirkan inspirasi yang jernih pula dalam memandang berbagai masalah. Saya berpikirm senangnya menjadi bagian dari mereka, yang dengan kejernihan bashirohnya, memiliki kemampuan memilih di atas rata-rata. Ternyata rahasianya adalaha keyakinan mereka yang kuat. Pandangan (bashiroh) mereka selalu berdiri pada keutamaan kehidupan akhirat yang akan dijalani, bukan dunia yang remeh-temeh ini. Dan juga, para orang sholih itu, selalu menggantung dan menyandarkan semua sisi hidupnya pada pengetahuan ALLAH.

Begitulah, dengan keterbatasan perangkat pendukung untuk memilih ini, disediakan sebuah fasilitas bernama istikhoroh. Sebuah pelibatan Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu dalam menentukan sebuah pilihan. Itulah yang kerap dilakukan orang-orang sholih itu. Begitu pentingnya istikhoroh, bahkan dalam sebuah hadis shohih disebutkan, intensitas RasuluLLOH dalam mengajarkan istikharah itu sebagaimana ia mengajarkan Al Fatihah kepada para sahabatnya.

Kini, tak perlu lagi kecil hati sebagai manusia yang pengetahuannya terbatas. Tak perlu lagi putus asa dengan sulitnya menentukan pilihan yang pantas. Karena ALLAH tersedia untuk kita, dan kitapun bisa menjadi bagian dari orang sholih dengan kejernihan bashirohnya. Karena semua orang lahir sebagai manusia biasa. Karena semua orang lahir dengan paket pengetahuan dan kesholihan yang sama. Tekad dan usahalah penentunya. Semoga kita semua memiliki kejernihan bashiroh seperti layaknya orang-orang sholih..

Umat Islam bersatulah!!!!
Advertisements

36 thoughts on “Kabel Merah Atau Kabel Biru?! Buruan!

  1. bukannya Infernal Affairs ya?!filmnya andy lau sama tony leung,,yang terus dibikin versi hollywoodnya,,the Departed yang maeninnya Leonardo di Caprio sama Matt Damon..*mencoba mengacaukan ingatan tentang film² mandarin..

  2. saya maunya kawin empat+10,,gimana dong?!btw,,udah "BUKA SAYA DONG" blom bung?!pilih kawin empat + 10 = no. 14 ya..berlaku juga bagi semua kog..tapi temen² mesti join grup itu dulu ya..ditunggu suaranya.. no.14!!ingat,,no 14!!hoho,,enaknya promosi gratis di tempat orang.. 😀

  3. padahal Bodyguard from Beijing itu mirip2 sama Die Hard keliatannya, ga inget duluan siapa………eh, bro dah nonton Red Cliff II blon??*mencoba OOT dgn membahas film*

  4. nmpang baca. alhamdullilah, mungkin banyak variasi yang di pikirkan manusia, memilih kabel biru ato merah, tentunya tergantung kepribadian masing-masing. manusia mempunyai watak dan sifat berbeda, kedaanpun bisa jadi membuat seseorang merubah pikiranya seketika, dalam hitungan detik memilih kabel merah/biru merupakan pilihan yang setidaknya harus bisa dihadapi resikonya. bila toh kabel biru adalah pematik bom maka resikonya adalah mati, waullohualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s