Sahabat Itu S.A.H.A.B.A.T

“Di, katanya kalau kita lagi punya masalah, ada sesuatu yang ingin kita bagi dan kemudian kita terpikir 1 nama, itu artinya kita punya sahabat. Emang gitu ya Di? Kalau kita ngga kaya gitu, berarti kita ngga punya sahabat dong?! Berarti gw ga punya sahabat ya Di..”, tanya seorang teman phlegmatis yang saya sayaaaang sekali padanya suatu hari. “Ehm..pertama, ngga juga. Ga usah terlalu terpengaruh sama teori-teori orang Yu, itu kan menurut manusia, teorinya manuisa, belum tentu bener. Kedua, emang kenapa? emangnya kenapa kalo ngga punya sahabat? ga boleh? gw juga ga punya sahabat dan gw nyantai-nyantai aja tuh. Biasa aja kali Yu”.

Dulu, pernah juga ada yang tanya, “mba, apa arti sahabat menurut mba?”. Saya bingung jawabnya. Saya juga tidak jago berfilosofi, arti ini arti itu, hah, repot mikirnya. Kalau ditanya artinya masya ALLAH saya tahu (dan faktanya banyak orang yang ngga tahu arti masya ALLAH).

Menurut saya, sahabat itu seorang teman spesial (heh, bukan pacar loh!), teman yang paling dekat, paling akrab, paling tahu kita dibanding teman lainnya. Tong sampah pribadi dan utamalah. Sampai saat ini itulah sahabat menurut saya. Karena saya beranggapan seperti itulah yang namanya sahabat maka saya menganggap tidak ada satupun diantara teman-teman saya itu adalah sahabat saya. Tidak ada yang paing dekat, rujukan utama untuk bercerita, paling tahu tentang saya, tidak ada.

Oleh karenanya pula, saya tidak bisa ikutan berpartisipasi dalam lomba menulis tentang sahabat yang diadakan bundaelly beberapa waktu lalu. Dulu, waktu lombanya tentang ayah saya ikutan, itupun tulisan lama yang sudah saya post auh sebelum lomba itu digelar. Tulisan yang memang tidak diperuntukkan untuk lomba, makanya tidak menang *berdalih*. Sekarang, meskipun saya ingin ikutan lagi, saya tidak punya tulisan tentang sahabat. Paling ada cerita tentang temen deket waktu SD, itupun tidak fokus ke dia, tapi ke diri saya sendiri (seperti biasa, hahaha). Kalaupun harus membuat tulisan baru saya tidak bisa, karena saya tidak tahu harus bercerita tentang siapa.

Sampai disini sepertinya anda mulai meras kasihan dan menganggap betapa sepinya hidup saya atau sedang mengkucek-kucek mata karena tidak percaya dengan penglihatan anda sendiri. Bagaimana mungkin seorang pemikirulung, kawan baik hati dan menyenangkan, bisa tidak punya sahabat? begitu mungkin yang ada di benak anda.

“Setiap teman punya posrinya masing-masing Yu”, kata saya ke teman saya tadi, dan diapun mengiyakan. Bagi saya, teman-teman dekat saya ada spesialisasinya masing-masing. Kalau mau curhat tentang da’wah saya ke si A, tentang pertemanan dan hubungan sosial saya ke B, tentang mimpi dan cita-cita saya ke C, dan sebagainya. Jadi, tidak ada 1 orang rujukan utama, yang tahu semua masalah atau hidup saya. Bahkan, dari segala hal yang saya bagi itu, yang saya simpanpun masih banyak, jadi tidak heran kalau suatu hari seorang teman sampai berkomentar “ga nyangka Ludi punya masalah kaya gitu”. Oleh karenanya saya menganggap tidak punya sahabat, tapi memiliki banyak teman dekat.

Namun kemudian, setelah semua omong-omong panjang tentang sahabat menurut saya ini, saya membaca tarbawi edisi jadul. Judulnya “Bila dikaruniai sahabat yang baik, peliharalah”. Dan kemudian saya jadi merasa perlu bersedih karena tidak punya sahabat. Karena di situ dibilang bahwa setiap kita perlu sahabat. Tidak ada yang bisa hidup tanpa sahabat. Orang bijak bahkan berkata “Boleh jadi engkau bisa hidup tanpa orang yang engkau kasihi, tapi engkau tak akan bisa hidup tanpa sahabat yang baik”.

Namun tentu saja. saya perlu menginsyafinya lebih jauh. Tentang apa itu sebenarnya sahabat, apa fungsi sejatinya dan siapa saja yang layak disebut sahabat. Masih versi majalah itu.

Dan pada akhirnya saya menyadari bahwa saya –dan sepertinya banyak sekali orang di dunia ini– telah salah mendefinisikan sahabat dan perlu memperbaikinya sehingga terjadilah deklarasi “tidak memiliki sahabat” sedangkan seorang ulama pernah berwasiat kepada ulama lainnya dengan “takutlah kamu dengan orang yang tidak punya sahabat dan yang tidak bersungguh-sungguh mencari sahabat itu”. Atau pengakuan-pengakuan tentang “dia sahabat saya” sementara yang bersangkutan belum tentu bisa menjelaskan apa dasar persahabatannya.

Tentang bagaimana seharusnya, saya bahas di tulisan lain, insya ALLAH tapi, ngga janji. Atau anda bisa membacanya sendiri di tarbawi edisi 172 tahun 9. Tentu definisi yang ada adalah versi majalah tersebut, dan anda berhak untuk mengikutinya atau tidak sehingga memutuskan apakah perlu mendefinisikan sahabat kembali.

Inilah akhir tulisan saya, sampai disini, ada yang tertarik untuk menjadi sahabat saya? *akan menyiapkan banyak  formulir, biar ga pada rebutan* hehehehe

Advertisements

26 thoughts on “Sahabat Itu S.A.H.A.B.A.T

  1. ah, itu kan akal-akalanmu om, biar besok bisa minta formulir lagi kan? trus nanti formulirnya disia-siakan lagi trus minta lagi, gitu kan om?padahal kalo mau sering ketemu aku ga usah pake cara aneh begitu, tinggal hubungin manajerku aja..

  2. sahabat,… tatkala kata sahabat datang menyapa benak ini yang terpikirkan adalah teman dekat yang selalu bisa membatu kita dalam setiap kegiatan, baik ketika susah dan ketika senang. sahabat juga manusia…mereka mempunyai kesibukan daan urusan pribadi juga. suatu saat bila kita merasakan begitu urusan kita sangat runyam dan sulit mencari penyelesaian. dan ketika sahabat mendadak ada urusan yang lebih penting dari kita. kata sahabat itu terkadang hilang begitu saja. hanya kata " katanya sahabat di mintain tolong aja gak mau" dan lain sbagainya …apa yang harus kita perbuat, Allah bersama kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s