Mending Ternak Patin Saja!

"uang untuk hidup, bukan hidup untuk uang"

Pengantar: Seorang teman bertanya via YM malam ini "mau nulis tentang apa Di hari ini?", membuat saya berpikir dan berpikir lagi mau menulis apa, sebenarnya banyak ide atau tulisan yang sudah dibuat, tapi belom sempat di ketik dan publish saja, berhubung teman saya bertanya lagi "lagi mau posting tulisan ga?", akhirnya saya berpikir lagi, dan dapatlah, tema yang sudah saya rencanakan di perjalanan menuju kampus tadi pagi..

Seperti yang sebelumnya sudah saya ceritakan, bahwa beberapa hari lalu saya melakukan kunjungan ke sebuah rumah sakit dalam rangka mata ajar "Manajemen Keperawatan". Rumah sakitnya bagus deh, cantik, berkelas dan sepertinya bekerja disana menyenangkan. Waktu kami dengar penjelasan dari perawat disana, disebutlah bahwa disana dari 120-an perawat, yang pendidikannya S1 cuma 4 orang, itupun tidak semuanya sudah lulus, ada yang masih nyambi sekolah, perawat S2 ada 1 dan selebihnya adalah lulusan D3. Magister keperawatannya menjabat sebagai manajer keperawatan disana, dan 4 orang sarjana, semuanya menjadi kepala ruangan (KaRu).

Melihat struktur itu, maka tidak salah dong, kalau kami (apa saya doang ya?) dengan semena-mena dan serta merta (juga mungkin agak tidak tahu diri) berpikir "kayanya kalo gw kerja disini langsung jadi kepala ruangan nih", hehehe. Ditambah dengan pemandangan yang kami lihat waktu berkeliling, (pas banget kami berkeliling ruangan VIP) suasana yang nyaman, iklim yang sepertinya menyenangkan, membuat tidak sedikit dari kami berkeinginan untuk bekerja di sana setelah lulus kelak. Apalagi disana hampir semua perawat berjilbab, wah jadi tidak ada masalah nih pake jilbab disini, begitu pikir kami.

Sampai ada 1 teman yang bertanya ada seorang karu yang menemani kami berkeliling "mba, jilbabnya harus digituin ya?" –perawat berjilbab disana semuanya memakai jilbab yang diikat kencang, dan dimasukkan ke dalam baju (model jilbab Z*skia Me**a gitu)– dan si karu menjawab "iya". Ziing..sebuah fakta bagi kami. Di suatu keadaan, tiba-tiba teman saya berbisik kepada saya "sayang ya Di, padahal kayanya enak banget kerja disini, tapi pas tau jilbabnya harus digituin, hh..langsung ta’ coret, mendingan engga deh, uang bukan untuk hidup Di..", saya cuma takjub mendengar kata teman saya barusan, soalnya saya tidak menyangka dia bisa ngomong begini, alhamduliLLAH deh, dan saya pun menjawab "lah..uang emang untuk hidup kali mba..hidup yang bukan untuk uang..", hehe, ngeselin? emang!

Semalem juga ada teman yang konsultasi, tanya pendapat saya "bekerja di bank itu bagaimana?". Saya bilang kalau bank-nya konvensional sih saya tidak mau. Karena bank konvensional kan meribakan uang, dan ALLAH mengharamkan riba. Meskipun kita dapet uang karena hasil kerja, bukan karena kita me-riba-kan uang, kalau saya sih mendingan tidak deh. "Mendingan dagang gw", kata saya.

Ada kakak kelas yang suatu hari menelpon, panjang lebar, cuma buat curhat, betapa dia merindukan suasana kampus. Karena seringkali, dunia pasca kampus itu bertentangan dengan idealisme kita. Dan seperti
omali bilang, idealisme seringkali bertentangan dengan selera pasar. Keadaan-keadaan yang tunduk dengan selera pasar itulah, yang kerap memaksa seseorang untuk menanggalkan idealismenya.

Masalahnya ini perkara nafkah bung, yang akan kita telan dan masuk ke perut kita, juga mungkin perut anak dan istri kita. Yang kalau tidak dirubah jadi ATP maka disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot. Yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Untuk hal sepenting itu, seharusnya kita lebih selektif lah. Bagaimana cara kita mendapatkannya, jangan dianggap remeh lah.

Seorang kawan mengutip sebuah pernyataan yang membuat saya geleng-geleng kepala dan jadi berpikir "ini anak ngaji kok begini" yaitu "idealisme hanya bisa diterapkan di tempat yang ideal". Hello..talk to my hand..*d’rahma mode ON*. Kenapa harus memilih-milih tempat untuk menerapkan idealisme? apakah karena di indonesia banyak sekali pejabat yang korup maka kita menerima suap sedikit sah-sah saja? apa karena dosennya ngga ngawasin ujian maka kita boleh mencontek? apa karena banyak daging sapi oplosan di pasaran maka kita boleh mencicipi daging celeng sedikit? apa kalau terlanjur basah maka harus mandi sekalian?

Perut..perut..repot juga urusannya. Toh akhirnya banyak juga yang mengalah dalam ketidakberdayaan dalam urusan perut. Seperti yang pernah
aki tulis di blognya. Mirip seperti pejabat-pejabat yang dulu waktu mahasiswa galak banget sama pemerintah, turun ke jalan untuk menyuarakan suara rakyat katanya, toh setelah mereka duduk di kursi empuk itu, akhirnya korupsi juga.

(tau apa kau pemikirulung ngomongin dunia kerja sementara kau sekolah saja belom lulus? belajar aja sanah!).

Ah, saya memang masih muda, masih berpikir yang ideal-ideal saja, belom banyak makan asam garam, belum banyak melihat pahit getirnya kehidupan. Sama seperti teman saya yang berbisik itu. Yang kami tahu adalah uang untuk hidup, bukan hidup untuk uang. Dan saya hanya berharap, semoga akan tetap berprinsip seperti itu dan tidak mengalah dalam nafsu perut dunia. Karena sekarang saya berencana kalaupun tidak dapat kerja yang ideal, mending saya ternak ikan patin saja, terakhir saya lihat di TV, hasilnya bisa jutaan rupiah! Dan ikan patin, tidak akan ambil pusing peternaknya z*skia me**a atau pemikirulung.

Advertisements

35 thoughts on “Mending Ternak Patin Saja!

  1. roelworks said: waktu akan membuktikan tulisan ini …

    *menelan ludah*

    *teringat banyak orang dan banyak kejadian*

    Seorang kawan pernah bilang, "kalau saya tidak mulai melangkah dg idealisme, saya tidak akan pernah tau yg ideal itu bagaimana"
    Sampai sekarang masih pingin nangis kalau ingat benturan apa yg dihadapinya. Hauhh..

    Mari kita semangat, Ludi!

  2. roelworks said: waktu akan membuktikan tulisan ini …

    Saya dukung di..

    Dukung ludi menjadi peternak ikan patin.
    O iya, klo ternak ikan patin, jangan lupa buat rumah makannya juga. Biar bisnisnya berkesinambungan dari hulu ke hilir..

  3. bulukucing said: Mari kita semangat, Ludi!

    mariiiii..

    kemarin pembicaranya bilang gini nih, katanya dia udah bilang ke mahasiswa-mahasiswa kedokteran "apakah kalian bisa menjamin bahwa obat yang kalian resepkan itu benar-benar halal?"
    au..au..untung perawat ngga kasi resep, hehe
    tapi aku tertarik banget tuh sama pengobatan herbal yang udah pasti halal dan thoyyib
    mengembalikan kedokteran ke cara rosuluLLOH…

  4. penjelajahsemesta said: Dukung ludi menjadi peternak ikan patin.

    aaah..berarti k’iman sudah memperkirakan aku ga dapet pekerjaan yang ideal dong?
    nanti kalo aku udah sampe di "luar" kukabar-kabarin..
    tapi boleh juga ikan patin jadi sambilan, atau lele, join sama yang mau ternak lele, hehehe

  5. bulukucing said: Ati2 Ludi..Kalo omali udah begitu, pasti ujung2nyaa….(suujon aje si diny nih)

    bener juga kau din! untung diingatkan..

    tapi aku ngga berniat tangan dibawah kok din, jadi abis usahanya sukses, modal dari omali aku balikin, jadi hubungannya profesional bukan hubungan sosial, seperti perawat dan klien, hehe, kali ini berarti seperti pemilik modal dan pengusaha..

  6. bulukucing said: Ati2 Ludi..Kalo omali udah begitu, pasti ujung2nyaa….(suujon aje si diny nih)

    Ah, saya mah modal do’a, kembang setaman, sama segelas air putih aja, om..
    *kayanya Diny mau buka usaha perdukunan deh ni*

  7. bulukucing said: Ah, saya mah modal do’a, kembang setaman, sama segelas air putih aja, om..*kayanya Diny mau buka usaha perdukunan deh ni*

    kalo gitu saya modalin jin aja gimana? mau jin yg kayak apa? yg gede serem, yg proporsional cakep, apa yang kecil dan imut???

    *jadi ajang sharing sesama parataknormal*

  8. carrotsoup said: kalo gitu saya modalin jin aja gimana?

    kalo saya pesen lilin yang ngga gampang mati om, biar kalo saya ketiduran dia ngga mati sendiri, jadi selamet, ngga ada yang ketangkep sama warga
    wakakakak…*makin ngaco*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s