Ternyata Maksiat Dan Riset Ada Hubungannya Juga

“penelitian xxah juga alhamduliLLAH lancar..semoga ngga terhambat hanya karena kelalaian dan kemaksiatan gw”

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan jawaban seperti itu via sms dari teman saya. Sebenarnya hari itu kami sms-an lumayan banyak, mulai dari fenomena suap-menyuap dan ketidakbersihan birokrasi Indonesia, sampai menyadari bahwa kami perlu belajar fiqh lagi, fakta bahwa saat itu saya BT sekali, sampai akhirnya, berhubung kami sms-an dari siang sampai sore, sampailah di waktu urusan proposal saya selesai dan tema sms-an kamipun berubah jadi seputar penelitian, bahkan ba’da maghrib saya masih sms dia berupa penjelasan kenapa sorenya saya BT. hehehe (kasian memang orang yang sms-an dengan saya, ngabis-ngabisin pulsa)

Waktu saya terima sms ini saya langsung tertegun, dan memutuskan untuk menyimpan sms ini sementara waktu. Betapa saya banyak belajar dari teman saya ini dan sepertinya dia akan jadi life time saya, orang yang enak diajak mengobrol tentang apapun, bahkan hanya untuk meracau-racau tentang lebay-nya fitri di episode terakhir cinta fitri season 3. Hehe (perempuan..perempuan..ck.ck.ck)

Kenapa kemaksiatan harus diwaspadai dan dihubung-hubungkan dengan kelancaran penelitian? saya langsung teringat dengan buku kuning-kecil-tipis-yang-sebagian-besar-ikhwah-di-UI-pernah-baca “Tarbiyah Dzatiyah”. Di dalam buku itu dibahas tentang salah satu sarana tarbiyah dzatiyah yakni taubat dari segala dosa. Dosa itu bukanlah hanya mengerjakan kemungkaran saja tapi juga tidak melakukan kewajiban-kewajiban syar’i atau melalaikannya, dalam bentuk tidak mengerjakannya dengan semestinya. Pada hakikatnya semua dosa adalah kesalahan, seorang salaf berkata “Jangan lihat kecilnya dosa. Namun, lihatlah kepada siapa Anda bermaksiat”. Satu hal yang begitu lekat dalam ingatan saya dari buku tersebut sejak pertama baca sampai sekarang adalah bagian hukuman di dunia. Dosa, yang pelakunya tidak bertaubat darinya, punya hukuman segera di dunia, sebelum di akhirat, kendati kejadiannya agak tertunda. Hal  ini wajib kita rasakan ketika mendapatkan suatu musibah, karena bisa jadi itu sebenarnya adalah balasan dosa kita di dunia. Fudhail bin Iyadh pernah berkata “Aku bermaksiat kepada ALLAH, lalu efeknya aku lihat pada perilaku istriku dan hewan kendaraanku.” (Al Aidan, 2003)

Maksiat juga membawa akibat lain salah satunya adalah menyulitkan urusan. Di postingan sebelumnya saya pernah menyebutkan QS Ath Thalaq:2 bahwa orang-orang yang bertaqwa akan diberi jalan keluar oleh ALLAH. Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka maksiat sebaliknya, pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Na’uzubiLLAH.

Ini hanyalah sebagian kecil dari akibat maksiat, dan masih banyak akibat buruk yang lain. Oleh karenanya, begitu pentingnya kita mengakhiri kemaksiatan, dosa, dan keburukan sekarang juga. Apalagi, keburukan selalu menarik pelakunya untuk melakukan keburukan yang lain dan menjadikan pelauknya lupa akan apa yang ia lakukan. Syaikh Muhammad Al Rosyid berkisah, ada seseorang memutuskan mundur dari komunitas orang-orang baik karena kecewa dan putus asa karena keinginannya tidak diperoleh. Selanjutnya orang itu mulai tidak melakukan amar ma’ruf, lalu meninggalkan sholat wajib dan mencukupkan diri hanya shalat Jum’at saja. Tak sampai di situ akhirnya ia juga tidak puasa di bulan Ramadhan bahkan kemudian menjadi terbiasa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa di siang hari. Ia menghisap rokok dengan tenang dan menghembuskan asapnya kepada orang-orang yang berpuasa (Nursani, 2004). Serem kan? saya merinding baca kisah ini.

Tapi tenang saja kawan, sebagaimana keburukan membawa keburukan yang lain, begitupun dengan kebaikan. “Jika engkau melihat seseorang melakukan keburukan, ketahuilah bahwa keburukan itu mempunyai saudara keburukan-keburukan yang lain dan jika engkau melihatnya melakukan kebaikan, maka ketahuilah kebaikan itu akan mempunyai saudara-saudara kebaikan yang lain” kata Zubair bin Awwam. Jadi, daripada kita memperpanjang keburukan, lebih baik kita memperbanyak kebaikan. Segala bentuk penghianatn harus dihentikan dari sekarang (kata seorang teman).

 “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertaubat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat , “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS Al-Muthoffifiin : 14) (HR Tarmidzi)

~Ya ALLAH mudahkanlah langkahku dalam menapaki kebaikan

Rujukan:
Abdullah bin Abdul Aziz Al Aidan. (2003). Tarbiyah Dzatiyah. Jakarta: Penerbit An Nadwah
Muhammad Nursani. (2004). Mencari Mutiara di dasar Hati. Jakarta: Tarbawi Press
http://istiqom4h.wordpress.com/2008/07/26/pengaruh-dan-bahaya-maksiat/
http://foristek.wordpress.com/2007/11/08/akibat-berbuat-maksiat/

Baca Juga:
Kenapa gue ketimpa musibah?

Advertisements

29 thoughts on “Ternyata Maksiat Dan Riset Ada Hubungannya Juga

  1. Iya,Ludi..Bahkan bisa menghambat pernikahan..(maxud bgt!)Hauhh..JKFS..Lain x kl posting cantumin referensi jg ah..Lucu, smbl mengenang masa2 skripsi yg bikin ktagihan ngetik tanda kurung..heu3..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s