Sebagaimana Jenggot Tidak Selalu Berarti Kambing..sebuah masukan untuk para pemilik akun internet

Sekitar satu tahun lalu, gagasan untuk merintis Rohis di SMP kami mencuat kembali, kali ini dari adik-adik kelas saya. Konsolidasipun dimulai, tim dibentuk dan itu artinya kami harus mencari kesana-kemari siapa saja yang bias dilibatkan di tim ini. Berhubung ini adalaha tim penggerak rohis di sekolah, orang yang diajakpun bukan sembarang orang. Karena bekerja disini bukan seperti main sinetron yang menghasilkan jutaan rupiah dan popularitas, bukan seperti pergi ke taman hiburan yang menyenangkan dan bisa sekalian cari pasangan (emang iya ya?)

Dan itu tidak mudah, selain karena saya sudah lama sekali lulus dari sana, siswa dari SMP saya juga begitulah, tipe-tipe remaja gaul kurang arahan, hahaha (bingung cari kata yang laen). Sayapun mulai mengingat karakter teman-teman sekolah dulu dan kemungkinan-kemungkinannya.

Sampai suatu hari saya bertemu dengan seorang pria (jah..seorang pria, bukan cowo) di Islamic Book Fair dan saya pikir itu adalah teman SMP saya dulu. Berhubung kemampuan mengidentifikasi orang saya sangat baik, saya yakin kalau dia memang teman SMP saya waktu kelas 1 dulu meskipun kami sudah tidak bertemu sekitar 7 tahun. Untuk memastikannya, saya cari anak itu di dari sebuah situs jejaring sosial yang saat itu masih cukup popular, friendster. Ketemu akunnya, maka mulailah saya berkirim surat dan akhirnya chat. Tujuan pertama saya adalah sekedar memastikan dulu apakah pria yang saya lihat di Islamic Book Fair adalaha dia yang waktu kelas satu sekelas dengan saya.

Tapi ada 1 hal yang membuat saya ragu untuk mengajaknya bergabung di forum alumni rohis ini, profilenya itu loh, sangat tidak menggambarkan seorang pria yang datang ke IBF sama sekali. Bahkan dia memasang gambar kartun cewek berbikini yang sedang duduk bersandar di vespa. Aiiih..memang sih kartun, tapi bikini gitu loh! Padahal dari hasil obrolan kami memang dialah yang saya lihat di IBF waktu itu. Hah..bingung, padahal dia menggunakan ane untuk menyebut dirinya (gw aja sering banget pake gw-gw-an dan luar biasa susah ngomong ane).

Karena penemuan “bikin dan vespa” itulah saya jadi mendapat masukan bahwa untuk melakukan pengkajian awal terkait afiliasi dan latar belakang seseorang adalah dengan melihat profile friendsternya. Dan sayapun mulai memiliki kegemaran baru yaitu membaca-baca profile FS teman-teman baik yang masih tidak jelas anak pengajian atau bukan sampai yang sudah jelas-jelas solih dan tukang ngajiin orang (hoho). Dan sampailah saya pada pertanyaan “seberapa representatifkah profile FS terhadap  karakterisitik pemiliknya, termasuk profile FS saya?”

Di multiply juga begitu, biasanya kalau saya meng-klik “view profile”, tujuannya untuk mencari tahu lebih jauh siapa dibalik tulisan-tulisan ini atau siapa orang yang akan jadi contact saya berikutnya kalau menerima invitasi. Namun, seperti seseorang bilang (kali ini saya ngga mau sebut nama lagi deh), blogger itu ada 2 jenis, pertama banyak menulis tentang berbagai fenomena dan miskin bahasan (bahkan cenderung merahasiakan) tentang dirinya sendiri, kedua kebalikannya, blogger yang isi blognya melulu tentang dirinya bukan orang lain seolah di dunia ini cuma ada dia. (mau lihat tipe blogger pemikirulung version? Sok di-klik ajah). Oleh karenanya ada blogger—saya spesifikkan-MPers yang tidak menulis informasi profile yang cukup untuk menggambarkan dirinya sehingga meng-klik view profile pun sia-sia. Masing-masing punya pertimbangan lah, saya hargai itu (apalagi kalo memang itu blog samaran, hehe).

Mungkin masih banyak orang yang menyepelekan informasi profile di sebuah akun. Padahal menurut saya, informasi profile tidak sepenuhnya bisa diremehkan. Karena siapa tahu bisa jadi ladang da’wah juga. Dengan menulis buku, musik, film favorit di FS membuat orang jadi terinspirasi dan tertarik untuk melihat. Dan siapa tahu juga orang jadi dapat hidayah karena baca buku favorit kita. Siapa tahu.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Yang paling mengusik saya akhir-akhir ini adalah status relationship seseorang di akun FBnya. Dia memilih “berpacaran”. Padahal saya tahu orang ini anak pengajian, belum menikah. Memang, banyak orang yang menjadikan status ini lucu-lucuan, sebentar pacaran sebentar putus dsb, untuk melihat bagaimana reaksi teman-teman, atau sekedar mengecek seberapa penggosipkah teman-temannya.

Tapi saya berpikir kemungkinan lain, bagaimana jika ada orang lain yang melihat-lihat dan kemudian berpikir “oo, jilbabnya panjang, ngaji, ternyata pacaran juga”, atau lebih parah lagi “oh berarti pacaran boleh ya, dia aja yang lebih alim dari gw pacaran kok”. Ah, makanya rosuluLLOH keras sekali dalam hal dusta.

Ya, tapi toh saya kenal orang ini juga sebatas permukaan, sebatas tulisan dan komentar. Mungkin dia memang bukan orang seperti saya yang menganggap pacaran itu tidak boleh. Atau mungkin dia itu tipe orang yang “pengajian terus pacaran jalan”. Kalau benar begini, berarti perlu ada intervensi lain selain sindiran lewat tulisan ini. Ada yang mau bantu? (kayanya udah ada yang tunjuk tangan tuh di belakang)

Memang, sebagaimana  jenggot bukan berarti kambing, maka ane-ente juga bukan berarti arab. Sebagaimana datang ke IBF bukan berarti mau beli buku, pasang gambar cewek berbikini juga bukan berarti suka naik vespa (yaiyalah). Tapi, kalau kita sudah memasang foto berjilbab di profile, janganlah menulis hal-hal yang bertentangan dengan jati diri seorang muslimah di informasi profile kita yang lain.

Afwan. waLLAHua’lam.

 “ALLAHumma inni a’udzubika min syarri maa shona’tu”

Ya ALLAH, sesungguhnya aku berlindung dari keburukan perbuatanku

Advertisements

31 thoughts on “Sebagaimana Jenggot Tidak Selalu Berarti Kambing..sebuah masukan untuk para pemilik akun internet

  1. girlfriend gw 2, boyfriend gw 2, lifepartner gw 2, dah lama ga ke IBF, gw jg bukan org soleh, liat aja tulisan gw, tp gw lagi nyari ipar solehah..ada yg mau ga? ; p*ngedip2 ke yg sering ke IBF bwt hunting tmn SMP*

  2. Lud.. merasa nih gw..!!*baru tau kalo in relationship di FB itu diartiin "berpacaran" dalam versi bahasa indonesianya (setting FB selama ini pake bahasa inggris) gara2 dikasih tau elisa*dulu waktu milih status itu tadinya mo in relationship ma adek gw, tapi berhubung yang bersangkutan belom punya FB (sekarang sih udah), jadinya dikosongin sama siapanya (dan belum diganti sampe sekarang)hmm.. kalo emang begitu ya sudah dirubah saja..khi3..*ngeloyor ke fesbuk*

  3. mungkin…*mulai males menanggapi komen ini karena merasa orang lain ga akan terlalu mengerti rasanya gimana* peace ah k'iman..orang berubah, mungkin suatu saat aku juga akan begitu dalam menanggapi kocak initapi aku setuju kak, orang yang bisa bikin orang ketawa itu adalah orang yang cerdasn_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s