Lupa-lupa Inget, Atau Inget-inget Lupa?

“Maha Suci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa”

Memang sudah karakternya manusia seringkali lupa. Bahkan kata insan yang artinya manusia, yang digambarkan untuk menyebut mahluk sepeti kita-kita ini, asalnya adalah dari nasiya, yang artinya lupa. Dulu, saya pernah menulis “sampai dimana letak keteledoran manusia”, dan bos im berkomentar “sampai tidak teledor lagi, itu malaikat dong namanya”. Ya..begitulah, setidaknya, ketika kita lupahal positifnya adalah kita jadi bisa tambah yakin, bahwa kita adalah benar-benar manusia.

Kalau dihitung-hitung, setelah puluhan tahun hidup begini, pasti sudah banyaaaak sekali nasihat, wejangan, arahan, atau hal-hal semacam itu lah, yang masuk ke telinga kita. Tapi, karena kita manusia yang punya sifat lupa tadi, kita amat sangat belum tentu mengingat semuanya. Oleh karenanya boleh jadi, ketika kita mendengar sebuah nasihat, yang sebenarnya bukan hal baru dalam kehidupan kita, kita masih saja bisa merasa takjub, bergetar, dan tercerahkan luar biasa (tergantung kondisi hati sih)

Seperti halnya suatu hari, saya mendengar ustadz bertanya, “siapa orang yang pailit?, dan kemudian beliau membacakan hadist

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka ( para sahabat ) menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan : orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. HR. Muslim.

ah, saya yang sebenarnya sudah pernah mendengar hadis itu mau tidak mau masih merasakan ketakutan yang sangat juga, masih merasa tersengat juga, takut banget jadi orang pailit di akhirat.

Seperti juga nasihat (bisa dibilang begitu ngga ya?) dari seseorang kemarin, saat saya sedang uring-uringan ngga jelas, kesel sama orang-orang, merasa tidak diperdulikan, si orang itu (aku agak ogah nyebutin namanya, takut GR, hihi) menasihati, bahwa mestinya kita ngga usah repot dengan kepedulian manusia, karena ALLAH peduli kok. Jangan sedih kalo ngga ada yang nyariin kalau kita tiba-tiba “menghilang” (karena dia dulu juga ngga ada yang nyariin) karena kita ini kan “berbuat” bukan untuk orang lain.

Diceramahin gitu, mau ngga mau saya kesentil juga, padahal saya dulu pernah dapet taujih serupa, dan waktu dapet taujih itu juga merasa dapat pencerahan luar biasa. Dari seorang abang di sebuah dauroh, dia bilang “kalau mau jadi aktivis harus siap jadi aktivis yang memperdulikan orang lain, tapi juga harus siap untuk tidak diperdulikan orang lain” (kira-kira begitulah, maap ga bawa notulensinya). Abang yang lain juga pernah bilang, di dauroh yang lain juga “nah..mulailah, untuk memikirkan, emangnya kalian punya mimpi apa, punya cita-cita apa di sini, jadi ketika kalian ngerasa ditinggalkan, kalian ngga kecewa dan mundur, balik lagi aja ke mimpi kalian sebenarnya” (kira-kira begitu juga). Karena memang, kalau kita berharap sama manusia, pasti akan ada kecewa, makanya berharap sama ALLAH aja, jadi semangat itu akan terus ada (tsaah..).

Nnaah..(sampe sini bingung ini tulisan mau ditutup dengan cara bagaimana), makanya, kita-kita ini sebagai manusia, jangan pernah berhenti belajar dan mengulang-ulang pelajaran, karena besar kemungkinan kita udah lupa sama pelajaran lama jadi diulangpun akan tetap terasa “getarannya”. Dan jangan juga merasa enggan untuk menasihati orang lain lantaran berpikir “ah, yang kaya gini mah mestinya dia udah tau” atau bahkan “yah, telat 100 tahun kalo ngomongin ginian sama dia sekarang” karena sudah tugasnya kita sebagai saudara untuk saling mengingatkan.

(makasi buat semua orang yang saya sebut disini, semoga ALLAH membalas kebaikan kalian)

Advertisements

16 thoughts on “Lupa-lupa Inget, Atau Inget-inget Lupa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s