Aku Anak Jujur, Terus Terang Bila Bertutur. Aku Anak Jujur, Mohon Maaf Bila Ngelantur

“Belajar di waktu kecil bagai menulis di atas batu

belajar sesudah dewasa bagaikan menulis di atas air”

 

Keponakan saya ada dua, dua-duanya balita, dan dua-duanya pula suka dengan Baba. Istilah untuk CD kompilasi lagu anak-anak, hadiah dari pembelian sebuah merk susu formula dengan kemasan tertentu. Baba sendiri diambil dari nama badut yang ada di CD tersebut. Keponakan-keponakan saya kerap meminta CD-CD Baba dimainkan, sepanjang hari, tidak cuma Baba, kadang Syamil, Tupi dan Ping-ping atau Umam.

 

Suatu hari, saat Baba sedang dimainkan, sebuah lagupun mengalun. Entah kenapa saat itu saya sedang mood untuk menyimak

“pernah dulu sebelum kutahu artinya

ku berbohong pada ibu

tapi ibu tak marah kepadaku

dan aku dipeluknya sambil diberi tahu

Janganlah berbohong kepada siapapun

Itu perbuatan berdosa

Hanya kejujuran, yang kan membantumu

Menjadi anak yang baik”

Hm..saya baru sadar, liriknya bagus sekali. Saya jadi terbayang wajah si Zaki dan Afaf dan kemudian menghayalkan andai lagu ini saja terinternalisasi pada mereka berdua, pasti hasilnya baik sekali.

 

Mendidik anak sedini mungkin, semua orang pasti sudah tahu urgensinya. Mendidik anak dengan akhlak yang baik demi masa depan bangsa, semua orang juga pasti mudah memahami urgensinya tanpa perlu dijelaskan sampai berbusa-busa. Tapi fenomena saat ini begitu mengiris hati. Anak-anak kita digempur dengan berbagai hal yang sangat potensial untuk menghasilkan moral jongkok di kemudian hari tanpa ada perlawanan yang berarti.

 

Saya tidak ingin bicara jauh-jauh, dari segi pendengaran saja. Anak-anak Indonesia ini sekarang hampir mustahil mendengarkan lagu yang baik, boro-boro Al Qur’an seperti si Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i, doktor cilik yang hafal Qur’an dalam usia 5 tahun, untuk lagu-lagu saja, sekarang sudah tidak ada. Anak-anak biasa diperdengarkan dengan lagu dewasa yang selain temanya amat sangat tidak anak-anak sekali, nilai di dalamnyapun buruk. Yang namanya kontes idola cilik saja, lagu yang dinyanyikan temanya cinta-cintaan semua. Apalagi kalau saya bahas gempuran lain untuk anak-anak kita, calon penerus bangsa, seperti sinetron tidak mendidik yang penuh penghinaan dan kata kasar, games porno, komik sadis, anime kejam dan juga amat sangat jauh dari mengajarkan akidah yang selamat. Kalau itu saya juga bahas, tulisan ini bisa panjang sekali, semalam suntuk anda (kalau mau) baca.

 

Semua hal menjadi penting bagi anak-anak untuk masa depannya. Apa yang mereka temui akan terekam dengan baik. Apa yang mereka alami akan menjadi pondasi penting dalam pembentukan karakter. Begitu bukan? Sayangnya iklan-iklan susu formula itu selalu hanya mementingkan kecerdasan intelektual dengan perangkat AA, DHA, dan susunan alfabet lain senjata pamungkas mereka. Padahal penanaman keimanan dan akhlak jauh lebih penting. Jadi sepertinya banyak orang tua lupa untuk mengajarkannya, jadi tidak terlalu peduli dengan lagu dan tontonan yang anaknya temui karena mereka sibuk beli mainan edukatif sambil sibuk pilah-pilih PAUD mana yang paling sukses mengajarkan anaknya membaca.

 

Bagaimana ceritanya nanti anak-anak ini kalau dari kecilnya mereka merekam ”selama aku masih bisa bernafas, masih sanggup berjalan, ku kan slalu memujamu”. Lantas dimana ALLAH? Atau anak-anak yang nyanyinya ”wo-o kamu ketahuan..”, atau ”lebih baik kuputuskan saja, cari pacar lagi”, bisa bermental selingkuh semua kalau begini.

 

Saya kadang jadi menghubungkan fenomena memilukan di negeri dengan lagu yang kerap dinyanyikan anak sekarang. Seperti fenomena kecurangan yang begitu luas mulai dari pejabat yang gemar korupsi sampai tukang cabe yang mencurangi timbangan, atau fenomena kekerasan dari demo anarkis yang menewaskan ketua DPRD sampai pemain sepakbola yang memukuli wasit di pertandingan atau pelajar yang frekuensinya berpartisipai dalam tawuran lebih banyak dari hadirnya di masjid untuk sholat jum’at. Selain itu, mereka-mereka para pelaku ini pasti kurang banyak mendapat didikan tentang kejujuran, kasih sayang, dan akhlak mulia lain di masa kecil mereka.

 

Saya tidak sedang menuliskan bahwa lagu anak yang baik saja cukup untuk membentuk manusia yang berkeimanan baik dan ahlak mulia. Betapa banyaknya anak Indonesia yang hafal ”1..1..aku sayang ibu, 2..2..juga sayang ayah”, namun masih ada kasus anak mengejar bapaknya pakai celurit hanya karena tidak dibelikan motor, dan kasus sejenis lainnya. Karena yang tidak kalah pentingnya adalah penjagaan dan pembinaan, bahwasannya seorang tua bertanggung jawab untuk mendidik anaknya hingga menjadi manusia yang ideal. Dan itu tidak semudah menyetel CD Umam di rumah anda. Mendidik anak ngga kaya merebus mi, instan, saya tahu. Hanya saja saya berpikir, bagaimana mau mendidik anak dengan baik sampai mereka dewasa kalau menyediakan objek pendengaran yang baik saja enggan.

 

Ayo bapak, ibu, cukuplah kita saja yang melihat Indonesia begini, tidak dengan anak-anak kita kelak. Yuk, mulai memperbaiki negeri ini, dengan memperbaiki generasinya, dimulai dari rumah kita sendiri, dengan lebih concern terhadap apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan.

 

*menulis di kamar diiringi suara Zaki yang menyanyi ”berkata benar, ahlak yang mulia, sifat terpuji, orang-orang suka” dengan suara cadelnya di luar*

 

~judul diambil dari penggalan nasyid anak-anak yang sering ku denger waktu kecil, dengan sedikit perubahan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s