Katamu Membuatku

Katanya hikmah itu milik muslim yang hilang. Jadi ada dimanapun dia, terserak dimana, muslimlah yang paling berhak menemukan dan memanfaatkannya. Seringkali saya menemukan atau menganggap itu adalah hikmah dari kata-kata teman saya.

 

Kata pertama

Suatu hari saya sedang ngobrol-ngobrol dengan akhwat dari fakultas lain. Saya bertanya padanya tentang orang-orang yang saya kenal. Sebenarnya lebih spesifik ke ”masih ngaji atau tidak”. Tiba-tiba si akhwat ini bertanya balik pada saya ”kamu nanya-nanya begini untuk kepentingan apa sih? Sekedar ngecek saudara atau kepentingan struktur?”

Deg. Saya tersentak. Kalau dipikir saya sering juga menanyakan pertanyaan itu, tapi baru kali ini saya ditanya balik begini. Hmm..iya juga ya, segala sesuatu pasti ada maksud/niatnya dan bertanya tentang orang lain, informasi yang bukan sekedr ”udah makan atau belom?” harus ada alasan tepat di balik itu. Sebenarnya sih saya tanya balik bukan tanpa alasan, tapi pertanyaan akhwat itu mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam membicarakan hal yang menyangktu orang lain, karena ini bukan perkara obrolan ”cabe keriting berapa sekilo?”. harus lebih berhati-hati jangan sampai tergelincir pada lembah ghibah.

 

Kata kedua

Lagi ngobrol sana-sini tiba-tiba Ides tanya, ”Ludi adiknya mba Tika ya?”, ”Ha?” saya kaget dengan pertanyaan itu, dan saya forward pertanyaannya ke Tika yang sedang di situ juga, ”Boy (panggilan saya ke Tika), masa Ides nanya ”Ludi adiknya mba Tika ya?”, ”hehehe”, saya dan Tika tertawa bareng. Saat itu respon nonverbal saya memang tertawa, tapi setelah beberapa lama, saya mikir juga. Ides bertanya begini pasti bukan tanpa alasan. Dan kemungkinan besar alasannya bukan karena saya terlihat lebih muda (secara fisik) dari Tika, tapi karena saya tidak terlihat lebih atau sama dewasanya dengan Tika. Padahal faktanya, Tika itu teman seangkatn saya, salah satu teman dekat saya, dan dalam hal tertentu dia juga sering meminta pertimbangan saya, karena begini-begini saya sebenarnya bijaksana-bijaksini. Namun persepsi berkata lain, Ides bukan orang pertama, Windi juga pernah secara implisit bilang bahwa saya tidak terlihat dewasa. Mungkin karena pembawaan saya yang cengengesan, bisanya ketawa-ketiwi, bentar-bentar haha-hihi, kasarnya tidak keliatan berotak (padahal ada, cuma entah saya pekerjakan dengan baik atau tidak). Sulit bagi orang lain untuk percaya bahwa ngobrol dengan saya rasanya seperti duduk bertapa di bawah pohon bodhi. Yah, saya pikir kadang jaga image itu perlu, jadi mungkin saya peru berlatih afek datar seperti Guru Tong, dengan sedikit anggukan bijak, dan bersikap meyakinkan, meskipun waktu saya mencoba orang-orang malah berkomentar, ”ga pantes Ludi!” atau ”apaan sih Pe? Jijay ah!” Yah, jadikan itu tantangan. Hehe

 

Kata ketiga

Sambil mengerjakan riset di perpus, saya menyanyi pelan, lagu anak jaman sekarang, saya lupa, entah D’Masiv, ST12, 112, atau T19 (kayanya ini angkot-angkot kp.rambutan-depok). Tapi Windi yang saat itu di sebelah saya bilang”ngga boleh Ludi, jangan nyanyi-nyanyi kaya gitu”, ”oh, ga boleh ya Win?”, ”iya ga boleh”, ”kenapa Win?”, ”pokoknya ga boleh”, ”emang Windi ga pernah nyanyi kaya gituan sama sekali ya?”, ”ya. Ludi kan punya hapalan, daripada nyanyi kaya gitu, mending muroja’ah”. Aiih.. solihah benar. Saya diam, mikir, dan merasa ternasehati luar biasa. Kalau bisa dapet 9 kenapa pilih yang ngga ada nilainya? Atau bahkan minus. Yuk, pilih amal solih ketimbang ke-sia-sia-an.

 

Kata keempat

Suatu malam, sudah lumayan larut, saya SMS seorang teman, sekedar say hi dan bertanya hal-hal ringan. Diapun membalas, dan di akhir smsnya dia bilang pada saya untuk membalas smsnya besok saja karena saat itu dia sudah akan tidur, bukan karena sudah sangat mengantuk tapi demi menuruti jadwal yang dia buat sendiri (yang katanya akhir-akhir ini kacau makanya dia mau komitmen memperbaikinya) dan bisa berpengaruh pada agneda besok pagi. Sayapun balas dengan –sebenarnya bercanda—”Yah *merasa ditolak* yaud. Selamat tidur bla-bla”. Eh, temen saya balas lagi, ”bukan begitu, *merasa tidak enak* untuk sukses kadang kita harus bisa menahan diri bahkan dari hal yang kita suka sekalipun. Begitulah kira-kira Pemi jan..” Ah , saya tersentil, merasa malu dan tersadar betapa selama ini saya tidak sedisiplin itu, tidak segalak itu pada diri sendiri, untuk menahan diri demi kesuksesan esok hari. Ngos-ngoson mengusir nongajah, itupun masih bagus, karena seringkali saya malah asik-asikan manjat-manjat pohon dengan monyet, berendam bareng kuda nil, mencuri timun bareng kancil, dan segala aktivitas bersama nongajah yang lain (sebenarnya istilah ”usir yang bukan gajah” dapet darimana sih?) Yuk, jangan lemah untuk meng-indibath diri sendiri (bahasanya bener ga?) biar tidak futur juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s