Jangan Tanya Kenapa

“kenapa why selalu always? Karena because ngga pernah never”

 

Biasanya kita bersyukur dengan kelebihan yang kita miliki. Tapi pernah ngga sih berpikir kalau sebenarnya kelemahan atau kekurangan yang kita miliki juga mesti kita syukuri karena seringkali banyak membawa kebaikan untuk kita.

 

Seseorang pernah bilang, bersyukurlah dengan keterbatasan penglihatan kita sebagai manusia, karena kalau kemampuan melihat kita seperti X-Ray, maka kita tidak bisa membedakan mana yang ganteng mana yang kurang ganteng karena semua hanya terlihat tulang belulang. Kita mesti bersyukur dengan segala ke-biasa-an dan ke-seadanya-an kita. Contoh gampang para super hero itu, yang kemana-mana dikejar-kejar penjahat dan –sepertinya ini yang paling banyak memancing emosi penonton—tidak bisa hidup bahagia dengan kekasih mereka (habis, dipacarin doang sih, ngga dinikahin)

 

Misalnya juga Aro dan Namiki di komik Beyond The Blindfold yang punya kemampuan melihat masa lalu atau masa depan hanya dengan menyentuh. Akibatnya mereka (khusunya Namiki) malah jadi takut untuk menyentuh orang lain, karena dia sering melihat masa depan yang jelek-jelek gitu. Bahkan dia sampai diusir dari rumah karena dianggap membawa sial.

 

Perlu juga bersyukur dengan keterbatasan pendengaran kita yang cuma bisa mendengar frrekuensi tertentu (aku agak lupa berapa range-nya), coba kalau tidak? Hidup di dunia pasti terasa beriik sekali. Dan kelebihan pendengaran belum tentu menyenangkan. Kaya Eragon yang setelah dia bisa mendengar suara hewan-hewan kecil di alam sekitar, akibatnya dia jadi tidak “tega” untuk menjadi karnivora, dan berhenti makan daging seperti para elf yang jadi gurunya (setelah Brom mati). Padahal, apa enaknya makan bubur ayam ngga pake ayam? atau makan sate kambing ngga pake kambing? tusuknya doang yang dipanggang. Atau Parkman di serial Heroes yang bisa denger pikiran, di awal dia sangat kerepotan, jadi bisa mendengar cibiran orang lain padanya dan hal-hal tidak menyenangkan yang lain. Coba kalau Parkman, Claire, dll adalah orang biasa seperti saya, maka mereka cukup nonton serial Heroes bareng saya, tanpa perlu repot dikejar pembunuh pembelah kepala seperti Sylar (ups, kesimpulan yang berantakan)

 

Ah, lagi-lagi prolog yang kepanjangn..(dan kayanya kurang nyambung)

 

Sebenarnya saya mau angkat tentang keterbatasan informasi. Yah, untuk beberapa hal adakalanya kita perlu bersyukur dan merasa cukup dengan info yang kita miliki. Karena belum tentu tau banyak atau lebih membawa kebaikan yang lebih juga untuk kita. Tidak semua pertanyaan ada jawabannya, tidak semua pertanyaan perlu kita tahu jawabannya atau tidak semua kenapa why jawabannya semudah karena because. (inget ya, tidak semua, bukan berarti tidak satupun)

 

Saya kasih sebuah contoh bagus banget, tentang seorang sahabat Abdullah bin Amr bin ’ash namanya. Seseoang yang merasa gembira karena senyuman RasuluLLAH SAW padanya, sampai-sampai dia merasa spesial di sisi rasuluLLAH dan menyangka dirinya adalah orang yang paling dicintai beliau. Suatu hari dia memvalidasi perasaannya itu dengan bertanya ”Ya RasuluLLAH, siapa orang yang paling engkau cintai?”. RasuluLLAH menjawab ”’aisyah”

Abdullah bin amr menjawab ”maksudku, siapa laki-laki yang paling kau cintai?”. Rasul menjawab ”ayahnya ’Aisyah (Abu Bakar)”, ”kemudian siapa?”, kata AbduLLAH lagi. ”Umar”. Setelah itu RasuluLLAH menyebut sederetan nama-nama sahabat dan sama sekali tidak menyebut nama Abdullah bin Amr bin Ash dalam daftar itu. Diapun membatin ”seandainya tadi aku tidak bertanya soal ini”

 

Tuh kan, mending ngga usah nanya. Yah, sebenarnya peristiwa itu pasti yang terbaik untuk AbduLLAH bin Amr bin Ash, meskipun sebagai manusia yang terbatas pengetahuannya kita mungkin tidak tahu dengan pasti dimana sisi baiknya. Tapi percakapan itu juga hal yang sangat baik untuk kita –yang suka baca siroh—kita jadi tahu bagaimana memikatnya pribadi RasuluLLAH, di saat BEM UI (entah periode kapan, aku lupa) punya jargon dekat di hati nyata berkontribusi, RosuluLLAH ngga pake jargon-jargonan, langsung praktek, nyata ber-efek.

 

Intinya sih, tawadzun-lah, jangan berlebih-lebihan juga. Semangat cari info dan bertanya-tanya boleh, tapi untuk hal-hal yang bukan hak kita untuk tahu, stop, jangan diteruskan dan balik lagi ke judul post ini jangan tanya kenapa.

 

~karena eh karena merusak pergaulan..*Roma Irama mode ON*

 

Kutipan atau apapun lah itu, saya ambil dari:

Serial HEROES

Komik ”Beyond The Blindfold”, lupa pengarangnya siapa

Buku ”Eldest”, trilogi-nya Eragon, Christopher Paolini

Buku ”Berjuang Di Dunia Berharap Petemuan Di Surga”, M. Nursani

Lagu Bang Haji Rhoma Irama, entah apa judulnya

Foto dari por.corbis.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s