1001 Alasan Untuk Tersenyum Pagi Ini

Pernahkah anda merasa sedang mengalami kemalangan beruntun? Saya merasa sering mengalaminya, sudah jatuh, tertimpa tangga, diinjak-injak orang, fraktur terbuka, kena infeksi, antibiotiknya mahal, sampe utang-utang ke tetangga, ternyata rentenir, dikejar-kejar, disuruh kawin sama anaknya biar utangnya lunas, begitulah..kemalangan beruntun. Kadang rasanya jadi nelongso sekali, “ya Robbi, apa lagi ini? ujian atau azab sih” kadang sampe bertanya begitu dalam hati.

Tapi seperti kata Salim tentang cerita keledai, siapa tahu, yang kita anggap kemalangan itu sebenarnya bukan kemalangan, tapi sebuah udang yang ada di balik bakwan (sepertinya peribahasanya tidak tepat). Kita pikir kita malang karena dapet bakwan sementara yang lain lemper isi daging, padahal di dalem bakwan kita, ada gulungan uang 100ribu nya *korban iklan sabun mandi*.

Seperti pagi ini, waktu mau berangkat, saya baru sadar kalau ban depan motor saya bocor, padahal semalem tidak apa-apa, saya jadi menyalahkan orang terakhir yang meminjam motor saya setelah saya sampai di rumah. Saya malas perpanjang kalam, malas juga minta pertanggungjawaban orang tersebut, saya nyalain motornya, tapi mba dyah protes “nanti velg-nya rusak”. Akhirnya saya cari pompa, padahal sebenernya males banget. Bapak ikut bantu mompain, tapi pompanya error, sekian menit berlalu berusaha mengisi angin ke ban itu walau sedikit, saya juga ikutan mompa, pegel bu…Desperate, akhirnya saya berangkat aja, terpaksa nuntun, di pagi hari (udah agak siang juga) dengan tas yang berat, karena mau menginap.

Sampai di tukang tambal, harus mengantri, padahal saya sudah terlambat. Bannya robek pula, harus diganti, aduh…saya bener-bener lagi prasejahtera nih! berpindahlah 25ribu ke tangan orang lain, dengan rasa miris dalem ati. Sambil sms temen-temen di kampus “aku ditinggal aja”. Benarlah, saya sudah ditinggal rombongan, terpaksa berangkat sendiri, mestinya bisa tidur di bikun, jadi harus merasakan kerasnya jalan raya sambil berkendara, mestinya bisa irit tenaga dan bensin, kenyataannya tidak begitu.

Tapi..pak-pak *menampar diri sendiri*, beryukurlah dan tersenyumlah, sayapun mencari 1001 alasan baik, alasan betapa saya harus tetap bersyukur dan tersenyum.

  1. kejadian ini terjadi di pekan ini, bukan pekan kemarin, jadi saya tidak harus terlambat ikut UAS gerontik
  2. cuma bocor kok, ngga sampe ilang motornya, apalagi yang punya
  3. yang bocor ban depan doang, bukan dua-duanya
  4. tangan dan kakiku sehat, ngga fraktur, ngga paralysis juga, jadi bisa buat dorong motor
  5. tukangnya ada di jalan sebelum kalisari, masih cukup deket lah
  6. tukangnya terletak di sebelum tanjakan, jadi saya ngga harus dorong menanjak
  7. yang bocor bannya, bukan kepala gue!
  8. masih ada duit kok di dompet, jadi ngga mesti ninggalin KTP atau bantu-bantu cuci piring
  9. ujan gerimis doang, bukan badai, apalagi puting beliung
  10. tukang tambalnya bisa bahasa Indonesia, jadi saya bisa berkomunikasi dengan lebih mudah, ngga harus buka kamus
  11. ternyata acaranya di LPI, saya pernah kesana, ya..kayanya ngga pake nyasar nih

(baru 11, kurang 990 lagi, ada yang mau nambahin?)

Ya.ya. Kawan, pagi ini indah sekali, tersenyumlah dan teruslah berbuat baik n____n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s