Tentang Keledai, Salim A. Filah, Zaki, dan Flash Disk

Oleh-oleh dari bedah buku Jalan Cinta Para Pejuang..(buat nt juga mel hehe)

Sebenernya tulisan ini sangat kurang merepresentasikan apa yang dibahas oleh Salim waktu itu, apalgi isi bukunya. Tapi ini yang paling kuinget, selebihnya tinggal baca bukunya atau siroh aja.

Salim A. Filah menceritakan sebuah cerita yang ceritakan oleh orang lain kepadanya, dan saya menceritakan kembali pada anda (fuih..). Alkisah ada seorang petani tua dan keledainya yang juga sudah tua. Suatu hari, keledai ini terperosok kedalam sebuah sumur tua. Si petanipun panik, bingung, karena keledai itu sangat berharga untuknya. Si petani tua tadipun mengeluarkan segala macam daya dan upaya untuk menolong keledainya. Dia masukkan kayu ke dalam sumur dan memerintahkan keledainya “ pegang kayunya, aku akan tarik kau”, dan tentu saja usahanya tidak berhasil. Petani tadi masih terus berusaha, kali ini menggunakan tali “ikat tubuhmu, aku akan tarik kau ke atas”, masih saja tidak berhasil. Akhirnya sang petani membuat sebuah simpul laso dan melemparkannya kedalam sumur, si keledai berhasil masuk ke dalam tali, namun sayang, talinya menjerat lehernya, jadi ketika sang petani berusaha sekuat tenaga menarik keledainya ke atas, si keledai berontak karena lehernya semakin terjerat dan talipun terlepas. 

Petanipun kelelahan dan mulai putus asa dengan segala usahanya. Si keledai masih di bawah, menunggu pertolongan. Akhirnya sang petani memutuskan “maaf keledaiku, aku tidak bisa menolongmu, agar kau tidak menderita sampai mati di bawah sana kukuburkan saja kau hidup-hidup” kata si petani. Diapun pergi mengambil sekop dan memulai menguruk sumur tua. Setiap dia memasukkan tanah ke dalam sumur, keledai menghindar. Ketika dia memasukkan tanah yang ke dua, keledaipun menghindar dengan naik ke gundukan tanah sebelumnya (cukup jelas kan ya?) begitu terus, sampai ketika tanah-tanah itu berhasil memenuhi sumur. Ketika itu maghribpun tiba, denga kelelahan sang petani bersandar di dinding sumur, puas dengan keberhasilannya menguruk sumur tua. Tiba-tiba..”ngiik” (bunyi keledai gimana sih?)  si keledai loncat dari dalam sumur tua yang sudah teruruk tanah. Si petani heran bercampur gembira, bagaikan mendapat durian runtuh dia menemukan keledainya kembali, dalam keadaan hidup (cuma capek kali ya?)

Begitulah, seringkali kita memandang sesuatu sebagai musibah untuk kita, padahal belum tentu hal itu sebenarnya adalah musibah (sampai sekarang saya masih agak bingung hubungan kesimpulan ini dengan cerita di atas). Saya jadi ingat dengan ayat Qur’an yang sekali dikutip si smel, Al Baqoroh:216 “boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Seringkali, yang kita pandang musibah, membawa banyak nikmat sebenarnya. Seringkali kita merasa jadi orang yang sangat malang, padahal begitu banyak keistimewaan di balik itu.

Begitupun dengan kasus flash disk saya akhir-akhir ini. Di tengah penyelesaian proposal riset, ada saja masalah dengan flash disk. Si anak_sholeh yang 512 MB tibatiba rusak, tidak bisa dipakai, padahal bahan riset ada di situ. Si afaf_aunty MP3 512MB, yang harusnya bisa jadi cadangan, raib entah kemana, dicari tidak ketemu. Tapi, ditengah kebingungan saya, tiba-tiba ada orang baik yang menghibahkan flash disknya pada saya, zaki_sholeh, memorinya? 4GB huhuhu.. 

Terima kasih ya ALLAH..terima kasih ummu zaki, mba-ku sayang..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s