Nasihat Kawan Dan Pukulan F4

(tulisan beberapa bulan lalu, ngga pernah di post, iseng-iseng di post aja, mudah-mudahan bermanfaat, lumayan buat ngeramein blog, secara lagi ngga sempet bikin tulisan)

Karena beberapa tahun terakhir saya berada di komunitas yang kalau kata seorang kakak kelas kurang baik karena tidak merepresentasikan keadaan dunia nyata, ternyata ada kemampuan-kemampuan yang hilang atau bahkan tidak saya miliki. Komunitas itu adalah fakultas saya yang sebagian besarnya wanita dengan perbandingan laki-laki dan perempuan di kelas 1 : 24.

Selama ini saya tidak menyadari bahwa ketidakmampuan saya itu adalah sebuah masalah, tapi akhirnya saya tahu setelah akhir-akhir ini agak sering berinteraksi dengan teman-teman dari komunitas (baca: fakultas) lain yang kulturnya tentu tidak sama dengan fakultas saya. Saya baru tahu bahwa ada sikap dan perilaku saya yang dianggap tidak wajar oleh teman saya yang lain, itupun secara tidak sengaja. Ketika itu dua orang teman sedang mengobrol dan kemudian saya ikut nimbrung. Terungkaplah bahwa mereka berdua menganggap sikap saya cukup bermasalah. Ketika akhirnya ada 1 orang yang ikut pembicaraan kami, terungkap pula bahwa ternyata diapun memiliki pendapat yang sama dengan dua orang sebelumnya.

Yang kemudian saya tidak mengerti adalah kenapa mereka tidak menasehati saya? Kenapa akhirnya baru terungkap itupun dalam obrolan tidak sengaja dan setelah saya coba korek lebih jauh. Karena kebodohan dan ketidakpekaanlah saya jadi tidak menyadari kesalahan. Karena kultur dan pola interaksi beberapa tahunlah yang membuat saya merasa itu adalah kewajaran. Dan kalau pada kenyataannya, dalam sudut pandang orang lain tidak seperti itu kenapa saya tidak diingatkan? Kalau memang teman saya itu menyayangi saya, bukankah seharusnya saya dinasehati agar senantiasa dalam kebaikan? Atau memang saya yang terlalu keGRan, merasa pantas dianggap teman, disayangi dan dinasehati agar tidak melakukan kesalahan?

Entah kenapa saya jadi teringat dengan obrolan F4 di Meteor Garden 2, sewaktu Tao Ming Se akhirnya kembali ingatannya dan menyadari kesalahannya sewaktu hilang ingatan. Tao Ming Se menyesal karena akhirnya mungkin kehilangan San Chai. Hua Ce Lei (kalo ga salah) berkata “kalau aku mengalami hal serupa, tolong kalian pukuli aku sampai aku sadar”. Dua temannya yang lain menyanggupi dan berkata “ya, aku akan memukulmu keras-keras”. Tao Ming Se yang mendengar percakapan itu semakin bersedih dan berkata “kenapa kalian tidak melakukannya padaku dulu?”

Seorang mukmin adalah orang yang menutupi aib dan menasehati. Sedangkan orang fasik adalah orang yang merusak dan mencela. (Fudhail bin Iyadh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s