Bangunlah Kalian Wahai Para Ayam

~mengutip taujih seorang ustadz sekitar dua pekan yang lalu

Alkisah, suatu hari ada seorang anak yang berjalan-jalan di dalam hutan (hm..maaf kalau agak kurang masuk akal hehe), tiba-tiba langkah anak tersebut terhenti. Dia melihat di depannya tergeletak sebuah telur, cuma sebuah. Akhirnya telur itupun dibawanya pulang (namanya juga anak-anak)

Sesampainya di rumah, telur tersebut dia letakkan di dalam kandang ayam dirumahnya yang sedang mengeram. (anggap saja ayah atau kakek anak tersebut hobi beternak ayam dan kebetulan ayamnya sedang mengeram saat itu) Anak itu tidak pernah tahu telur apa sebenarnya itu, dan mungkin anak itupun tidak pernah berpikir jauh. Akhirnya telur yang sebenarnya telur elang itupun dierami oleh induk ayam.

Beberapa pekan kemudian (untuk info aja, telor ayam menetas setelah 21 hari), telur-telur itu menetas, termasuk si telur titipan. Anak-anak ayam itupun tumbuh, hidup, bersama anak elang sebagaimana biasanya hidup ayam-ayam yang lain.

Selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu mereka hidup bersama, menjalani kehidupan sebagai anak ayam. Merasakan pahitnya dan kerasnya kehidupan dunia, tanpa ada kecurigaan “elo anak siapa?”, “lo lahir dimana?”, “dulu ketuker ngga di rumah sakit”, dsb. Si anak elangpun sudah merasa sebagai anak ayam, ruhnya adalah ruh ayam muda.

Saat sedang asik-asik mencari makan, nyeker-nyeker di tanah, tiba-tiba ada seekor burung melintas, sebenarnya mengincar anak-anak ayam tersebut. Si anak elang, kagum melihat kegagahan burung tersebut bertanya pada saudara angkatnya
(sebagai catatan, mereka berbicara dalam bahasa ayam, cuma saya takut anda tidak mengerti, jadi atas kebaikan hati saya, sudah saya terjemahkan ke bahasa manusia)
“eh, apaan tuh, yang barusan terbang di atas kita?”
“itu elang”
“ooh elang, hebat sekali, bisa terbang, kenapa kita tidak bisa?”
“yaiyalah, kita kan ayam, ngga bisa terbang, kalau elang, dia burung makanya bisa terbang”
“tapi kita juga punya sayap, kalau kita belajar apakah kita bisa terbang seperti dia?”
“ya enggaklah, sayap kita kan beda sama dia, bahasa sederhananya anatomi dan fisiologi tubuh kita berbeda, jadi ngga mungkin kita bisa terbang kaya dia”
“oooh begitu ya..”
“iya, udah jangan bengong aja ente, mending ikutan kabur bareng sodara-sodara kita yang laen, salah-salah kita bisa disamber sama tu elang”
“oh, oke deh..”
mereka berdua pun berlari, menghindar dari sergapan si elang.

Begitulah, sampai akhir hidupnya(ngga perlu saya ceritakan detail kan?) si anak elang tumbuh sebagai seekor ayam, tanpa pernah tahu dan tanpa pernah mencoba untuk menjadi seekor elang, yang bisa terbang tinggi dengan gagahnya. Si anak elang terjebak dalam pikiran “gw cuma anak ayam”, tanpa pernah melebarkan sayapnya, mengasah kemampuannya, dan merasakan terpaan angin, merasakan udara menyelip diantara bulu-bulunya ketika membumbung di angkasa.

Lantas bagaimana dengan kita? sebenarnya siapa kita? apakah anak ayam yang seperti selama ini kita pikir? atau sebenarnya kita adalah elang, yang tanpa sengaja hidup di kerumunan ayam? kenapa kita masih saja jadi anak ayam yang cuma bisa berlari di atas tanah, saat elang-elang lain sudah mengangkasa?

Bangunlah kalian para ayam, bentangkan sayapmu, asah kemampuanmu, mari kita terbang dengan lebih tinggi lagi, bahkan lebih tinggi dari elang lainnya..

foto diambil dari pro.corbis.com, bukan ayam, bukan elang, bebek kayanya hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s