Betapa IPK Saya…

Masuk semester-semester akhir begini malah jadi sering sedih, menyadari bahwa ditanya ini ngga tau ditanya itu ngga tau juga. Kalau dulu waktu tingkat pertama masih bisa berdalih “belom belajar” atau “wah mata kuliah masih yang dasar tuh” tapi kalau sekarang mana bisa ngomong begitu? bisa diamuk masa (lebay). Jadi inget kata Dede waktu saya tanya berapa IPKnya, “ngga menggambarkan ilmu yang ada di otak Di” katanya begitu.

Ya..sama aja keadaannya dengan saya. Betapa IPK saya tidak menggambarkan pengetahuan atau ilmu yang nempel di otak. Dosen-dosen sering bilang “ilmunya jangan disposible dong”

Kalau Ali bin Abi Tholib bilang “ikatlah ilmu dengan menuliskannya” maka Pemi Ludi akan bilang “jeratlah ilmu dengan mengulang-ngulangnya” hehe. Memang sudah karakternya ilmu, mudah lupa, jadi harus dibaca lagi, pahami lagi, baca lagi, pahami lagi. Jadi semua hapalan itu, yang seabrek-abrek itu, tentang faal, anatomi, patologi, dll bisa dipahami dengan baik dan akhirnya nempel di memori jangka panjang, ngga disposible lagi.

So..harus semangat..baca dan baca..

~postingan di hari terakhir kuliah sebelum libur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s