Teguran Yang Kerap Membuat Hati Saya Mencelos

Lidah lebih tajam dari pedang, Mulutmu Harimaumu, Memang Lidah Tak Bertulang, Banyak Bicara Banyak Salah adalah ungkapan yang seringkali kita dengar, atau bahkan sudah membuat kita bosan. Materi menjaga lisan, bahaya lisan, sepertinya sudah berkali-kali diulas dan mungkin kalau diuji secara teori kita semua bisa lulus dengan gilang gemilang. Tapi yang namanya prakteknya, luar biasa sulit sekali, entah bagi orang lain, tapi begitulah bagi saya. Seorang senior pernah menanggapi hadis, “Man kaana yu-minu biLLAAHI wal yaumil aakhir, fal yaqul khoiron au li yashmut, barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam”, bagi orang yang memang sudah bawaan lahirnya adalah seorang yang pendiam mungkin mudah mengamalkannya tapi lain halnya bagi orang yang suka berbicara (baca: cerewet), begitu kata senior itu. Tapi yang jadi tantangan kemudian adalah berkata yang baik, karena kalau diam itu adalah emas bagi orang Indonesia, maka dalam islam diam adalah perak dan berkata yang baik adalah emasnya. Membatasi diri dari berbicara atau hanya mengatakan hal yang baik adalah aktivitas yang cukup berat bagi saya.

Dari dulu, permasalahan saya adalah itu-itu saja, ya..lisan saya ini. Sering sekali saya membuat orang sakit hati, karena ke blak-blak-an dan ke spontanan saya dalam melontarkan apa yang saat itu ada di otak. Ya..bagi yang sensi-sensi, tipe-tipe melankolis, saya pasti sosok yang amat menyebalkan, sampai seorang teman mengatakan saya tidak pandai memperlakukan orang lain dengan baik. Tapi, seringkali saya diingatkan, seringkali saya lupa, atau mungkin tepatnya tidak merasa. Bagi saya itu biasa-biasa saja, ternyata bagi orang lain begitu membawa luka. Hhh..hal itu pula yang sering membuat saya mengeluh “kenapa sih manusia harus jadi mahluk sosial?”, keluhan yang keluar di saat saya sedang begitu kesal dengan diri sendiri yang lagi-lagi bersalah tanpa sadar dan melukai orang lain yang selalu sadar.

Kisah seorang anak dan ayahnya dengan papan berpakunya selalu membuat saya tertohok. Merasa begitu putus asa karena menyadari telah membuat banyak lubang di hati orang lain. Tapi yah..lubangnya sudah terlanjur ada, saya berkali-kali minta maafpun sudah ada lubangnya disana, masya ALLAH..maha suci ALLAH yang senantiasa mengampuni hambaNya yang bertaubat. Kenapa mahluk malah kurang bisa memaafkan dan melupakan ya?

Setiap kali menyadari bahwa ada kata-kata yang salah atau bahkan membuat orang lain sakit, maka saat itu pula hati sayapun merasakan hal yang sama. Penyesalan itu tidak dengan mudahnya hilang.  Melihat wajah “korban” saya membuat saya trauma dan kerap bergumam dalam hati “ya ALLAH ini orang yang pernah sakit gara-gara saya” dan pikiran itu terus menggelayuti. Makanya ketika saya tahu apa yang ada dalam hati orang lain, bahwa mereka adalah korban saya dalam berbagai kadar kesakitan, membuat saya tidak bisa berinteraksi dengan bebas lagi seperti sedia kala, dalam pikiran saya akan terus ada kabut ketakutan akan mengulangi hal yang sama. Meskipun orang yang bersangkutan bilang “ga papa pe, ga masalah kok, gw udah lupain” tetap saja saya tidak bisa lupa. Untuk hal-hal seperti ini entah kenapa saya jadi seperti gajah.

Dan hari ini, tema bahaya lisan ini muncul lagi, seorang teman chat berkata pada saya, “makanya kalau mau berkata, dipikir dulu”..Ya Rabbana…hati saya seperti mencelos, darah saya tersirap, mengingatnyapun membuat lutut saya lemas, mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan. Setelah saya berkali mengetik “afwan” pembicaraanpun saya hentikan padahal masih ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, dan saya tidak lagi yakin apakah saya bisa berbicara lagi dengannya seperti sebelum hari ini, berdiskusi panjang dengannya di telepon seperti sebelum ini.

Ya ALLAH A’uudzubika min syarri maa shona’tu…Aku memohon perlindungan dari keburukan perbuatanku..

Untuk semuanya, saya hanyalah manusia biasa, yang karena kebodohan dan keterbatasan saya membuat saya kerap membuat kesalahan, oleh karenanya maafkanlah..karena seperti yang saya katakan, saya hanyalah orang yang sedang berusaha memperbaiki diri. Belajar menggunakan lisan dengan baik sepertinya adalah benar-benar proses belajar sepanjang kehidupan saya.

(Hiks..hiks..gw sedih banget nih..apa emang gw ga berbakat ngobrol sama orang ya??)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s