Keamanan Berkendara dan Penggantian Identitas, Sebuah Tinjauan Realita dan Kebodohan Sinetron

Akhir-akhir ini saya semakin sering melihat pengendara motor yang menyelipkan hpnya di helmnya tepat di depan telinga. Meskipun saya tidak tahu pasti alasan mereka menyelipkan hp di situ, tapi saya yakin alasan mereka bukan karena melidungi telinga dari kebisingan, melindungi telinga dari hawa dingin seperti saat musim dingin seperti di negara-negara dengan 4 musim atau untuk mencegah kotoran telinga menetes keluar dan mengotori helm. Kemungkinan besar (dan hampir bisa dipastikan benar) alasan mereka adalah agar tetap bisa berkomunikasi lewat hp meskipun sedang berkendara.

Setelah beberapa kali melihat pengendara motor yang melakukan hal  demikian saya sempat berpikir “sebegitu besarnyakah kebutuhan berkomunikasi sampai-sampai harus tetap dilakukan meskipun sedang bawa motor?”

Perilaku seperti ini sebenarnya sungguh berbahaya karena pada dasarnya mengendarai sesuatu membutuhkan konsentrasi sedangkan mengobrol dengan orang lain apalagi di telepon adalah sebuah distraksi yang cukup signifikan. Kondisi jalan yang selalu berubah ditambah dengan keadaan kita yang bergerak dengan kecepatan tertentu selayaknya dikompensasi dengan tidak meleng saat berkendara. Seorang karyawan FIK bercerita dulu pernah ada polisi yang meninggal di dalam lingkungan UI setelah menabrak  pohon karena dia meleng sebentar.

Sejak dulu sudah ada peringatan untuk tidak menelepn saat mengendarai mobil karena bahayanya. Apalagi ditambah kenyataan bahwa laki-laki memiliki kelemahan tidak dapat melakukan berbagai pekerjaan dalam satu waktu. Bahaya menelepon saat berkendara ini juga bayak digambarkan di sinetron. Diawali dengan adegan jatuhnya hp yang sedang digunakan saat menyetir kemudian si driver repot-repot meraba-raba berusaha memungut hpnya. Saat sedang tidak melihat jalan di depan, entah bagaimana bisa, tiba-tiba di depan ada pohon, jurang, atau truk besar, dan kemudian mobilpun menabrak. Si driver (biasanya pemeran utama atau pemeran pendamping) lalu hilang ingatan dan ditolong oleh janda yang masih denial dengan kepergian suaminya dan kemudian memberi identitas baru untuk si driver alias mengaku-aku bahwa dirinya adalah istri si driver. Dan percayalah, tidak cuma satu sinetron yang punya cerita seperti itu.

Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan berkomunikasi di jaman sekarang ini memang sangat tinggi. Ada yang pernah bilang bahwa tingkat kesejaheraan seseorang bisa diukur dari pengeluarannya untuk berkomunikasi, idealnya belanja untuk kebutuhan komunikasi lebih besar dari belanja kebutuhan dasar. Komunikasi juga salah satu sarana silaturahim, sebuah kegiatan yang begitu dianjurkan RosuluLLOH dan begitu banyak manfaatnya. Tapi apakah harus sampai menanggung risiko membahayakan diri sendiri dan bahkan orang lain? Saya rasa tidak. Kalau memang mendesak menepilah sebentar karena saya yakin anda pasti tidak ingin cuma karena menelepon anda harus celaka, dan kalau beruntung masih hidup, harus terbaring di RS dengan memori otak yang hilang ditemani seorang janda yang mengaku-aku istri anda sementara istri dan anak-anak anda di rumah sedang tahlilan sambil bersimbah air mata (hehe sinetron banget kan?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s