Back To Markaz, Back To Qur’an

Beberapa waktu yang lalu seorang teman membagikan pada kami sebuah brosur sederhana. Beberapa dari kami yang membacanya tersentak kaget dan sejurus kemudian jadi bersedih. Bosur itu dari LTQ (Lembaga Tahfizh Qur’an) Markazul Qur’an berisi tentang pemberitahuan pembukaan pendaftaran gelombang baru. “Masya Allah udah dibuka pendaftaran baru lagi”, kira-kira itu yang ada di otak kami dan kemudian kami menyadari “berarti udah 1 semester (atau lebih) ya, kita meninggalkan markaz”

 

Saya masih ingat taujih Ust Abdul Azis Abdul Rouf, Al Hafidz ketika kuliah perdana (entah pada gelombang berapa) tentang istiqomah. Beliau bilang bahwa salah satu akar kata dari istiqomah artinya lurus. Jadi, beliau bilang, ketika kita berbelok, tidak melanjutkan belajar karena suatu hal misalnya nikah, maka ketika kita balik lagi itu namanya istiqomah. Hal itu pula yang saya jadikan alasan ketika teman-teman bertanya apakah saya masih di markaz, “aku lagi belok dulu nih, nanti balik lagi.”

 

Brosur sederhana itu mengingatkan saya lagi sudah berapa lama saya berbelok, mengingatkan saya lagi akan sebuah cita-cita yang optimisme akan ketercapaiaannya seringkali naik dan turun. Dan mengingatkan saya lagi akan momen-momen sabtu pagi saya, ketika berangkat ke markaz adalah agenda utama sebelum menunaikan agenda-agenda lain. Mengingatkan pada sebuah kelompok kecil dimana beberapa wanita berkumpul tapi tidak ada yang mengobrol, semua sibuk dengan Qur’an masing-masing, hal yang tidak saya temui di forum-forum lain. Ah, sungguh saya rindu dengan itu semua.

 

Memang benarlah, semakin jauh kita berbelok, semakin sulit untuk kita kembali. Semakin lama kita mengambil jeda, semakin berat untuk kembali memulai. Dan semakin lama otak ini tidak digunakan untuk menghafal, semakin susah untuk diisi kembali, bahkan hanya dengan satu ayat pun.

 

Salah satu sarana penunjang dalam menghafal Al Qur’an adalah bergaul dengan orang yang sedang atau sudah hafal Qu’an. Kembali ke Markazul Qur’an berarti menuju ke sarana itu. Berkumpul dengan halaqoh Qur’an, bertemu dengan ibu-ibu yang anak-anak balitanya lebih dari satu tapi begitu semangat dalam menambah hafalan, terkagum-kagum dengan semangat mereka yang setoran sambil ditarik-tarik anaknya yang merengek minta sesuatu.

 

Dan kenapa saya menulis ini semua? Untuk menambah daftar orang yang akan mengingatkan saya ketika suatu hari berbelok lagi dan untuk mempengaruhi orang-orang untuk ikut melestarikan budaya tahfizh qur’an, budaya para salafush shalih ini.

 

Allahummarhamna bil qur’an. Ya Allah rahmatilah kami dengan Qur’an.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s