Antara Pemikirulung dan Tukang Gemblong

Suatu hari bapak bilang begini, “kok si Pemi jadi mirip tukang gemblong?”, dan kemudian pertanyaan bapak ini disambut dengan ketawa senang oleh kakak-kakakku. Yah beginilah nasib anak terakhir, suka jadi bahan ledekan orang serumah.

Tukang gemblong yang dimaksud bapak adalah tukang kue keliling yang tiap pagi jualan di daerahku. Sebenernya mba tukang kue keliling (MTKK) ini menjual berbagai macam jenis kue dan gorengan, hanya saja karena bapak selalu memilih gemblong untuk dibeli, akhirnya sebutan tukang gemblongpun dipilih.

Sebelum membuat akun blog, aku sudah merancang-rancang nama apa yang akan kupakai untuk blog-ku. Dan aku memutuskan untuk memakai tukang gemblong. Bukan karena aku sepakat dengan bapak bahwa aku memiliki kemiripan dengan tukang gemblong (buat catatan, dari dulu aku paling ngga suka dimirip-miripin bahkan dengan Dian sastro sekalipun, itupun kalo ada yang berpikir ke arah sana), tapi karena aku kagum dengan semangat MTKK ini.

MTKK ini adalah seorang ibu, umur 30an. Mencari penghasilan dengan berjalan kue keliling di kampung-kampung. Seringkali dalam sekali keliling, tidak cukup banyak kuenya yang terjual. Jadi, menurut mama, dia sampai muter lagi sampai 3 kali. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh pedagang keliling lainnya di kampungku. MTKK ini juga tipe pedagang yang jemput bola, kalau kita (orang rumah) belum ada yang beli dia akan berhenti di depan rumah sambil berteriak ke arah pintu abang “afaf..afaf.. donat faf” (afaf biasanya beli donat) atau ke arah pintu rumahku “bu..gemblong bu..”

Begitulah MTKK menginspirasiku, melihat kegigihannya aku jadi termotivasi. Melihat kehidupannya aku jadi lebih banyak bersyukur, seperti yang mba eko bilang “tuh de..kamu masih jauh lebih beruntung dari dia, harus banyak bersyukur..”

Tapi entah kenapa, aku juga lupa kronologisnya. Pada akhirnya aku bikin akun di multiply, aku masukin id-nya pemikirulung, waktu kemudian bikin lagi di blogspot, juga pemikirulung. Entahlah, mungkin karena kata “pemikirulung” sudah kupakai sejak SMP.

Sekarang aku berharap, meskipun bukan tukang gemblong semoga aku bisa jadi pemikirulung yang terus termotivasi dan banyak bersyukur. Senantiasa ikut memikirkan masalah umat dan jadi bagian dari solusinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s