Pertama ke Rumah sakit Jiwa

Hari ini kunjungan pertama anak reguler 2005 ke Rumah Sakit Jiwa. Disuruh kumpul jam 8 pagi di RSMM Bogor, temen-temenku pada panic dan berangkat pagi-pagi. Bahkan katanya ada yang sampe disana jam 6 pagi! hue..he..jam segitu aku masih dirumah, baru mau mandi. Aku berangkat sendiri, ngga bareng rombongan, sampe di pocin jam 7, satu setengah jam setelah rombongan teman-temanku berangkat. Tapi Alhamdulillah aku sampe di Bogor tepat waktu, ngga telat lho..Allah memang baiiiik sekali.

 

Kita semua jalan bergerombol untuk mencari ruangan masing-masing. Kelompok yang sudah ketemu ruangannya langsung mulai masuk dan mulai interaksi dengan klien. Di perjalanan, tiba-tiba ada satu orang pasien teriak-teriak “monyet..monyet..!” dari dalem ruangannya, cukup membuat kita yang baru pertama ke rumah sakit jiwa ini ciut nyalinya. Aku yang tadinya masih nyantai jadi ansietas juga.

 

Kelompokku dapet ruangan tempat pasien laki-laki. Disana kita dikenalin sama pembimbingnya dengan pasien-pasien, kita boleh milih pasien yang mau kita rawat. Setelah dapet 1 pasien, hariku yang sebenarnya di RS ini dimulai.

 

Seperti biasa, perkenalan dan cari tempat buat ngobrol. Alhamdulillah pasienku ini cukup kooperatif. Bahkan aku yang semula mendiagnosa dia waham, baru sadar setelah dia sendiri yang bilang “suster katanya saya ini halusinansi ya..” Wah..pucuk dicinta ulam tiba, dapetlah aku masalah utama klien-ku ini. Ternyata dia menderita halusinasi yang cukup parah, bahkan kadang halusinasinya bisa menguasainya.

 

Berinteraksi dengan pasien (selanjutnya kusebut klien ya..) ku ini membuatku merasa kasihan sama dia. Empati-ku muncul (jieeh..), dia memperlihatkan bekas luka di tangan dan kepalanya, katanya dipukulin sama orang tuanya dan ada juga yang dipukul polisi. Klienku bilang dia punya orang tua 4 “katanya kalo punya orangtua banyak enak ya suster, tapi saya kok malah begini”. Menurutku, sebenernya klien-ku ini cukup beruntung karena dia dikirim orangtuanya kesini, bukan dikurung dirumah, dibuang di jalan, atau bahkan dipasung. Dengan ditempatkan di RS setidaknya dia bisa mendapatkan asuhan yang sesuai dengan kebutuhannya.

 

Meskipun sempat dibilang penjelmaan dari Ranti si iblis dari neraka, aku cukup puas dengan kerjasama klien-ku ini. Dia menceritakan masalahnya dengan jelas, bicaranya nyambung, ngga kurang ajar (misalnya minta cium, colek-colek, dsb), dll. (temenku ada yang dicium sama kliennya loh..cewek sih..) dia itu sadar kalo dirinya sakit jiwa, dia bilang “yah maklum lah namanya juga ngobrol sama orang gila, ngga kaya suster yang normal gini..” he..he..dibilang normal sama orang gangguan jiwa..he..he..lumayan lah..

 

Ternyata merawat klien sakit jiwa tidak semenakutkan yang kita kira. Asal komunikasi kita tepat sehingga bisa membantu menyelesaikan masalahnya bukan malah menambah diagnosa baru. Mungkin suatu saat aku akan coba untuk ngobrol dengan orang gangguan jiwa di jalan yang kulalui..semoga diri ini bisa membantu menyelesaikan masalah mereka..semoga..

 

Buat temen-temen 2005 semangat ya ngerjain laporannya, besok kita kunjungan lagi ke panjalu dan kampung naga, SEMANGKA!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s