Kemana Perginya Pemahaman?

Pagi itu, di tengah perjalanan kekampus, aku berpapasan dengan seorang teman pria, yang katanya sekarang sudah "ngaji", jadi ketua ROHIS di kampusnya, memakai celana pendek. Aku bingung, tak percaya dengan penglihatanku, "masa ketua ROHIS pake celana pendek kemana-mana naik motor?" lantas akupun tabayun dengan teman yang sekampus dengannya "tan, si xxx masih "ngaji"?, kok pake celana pendek pergi-pergi?", temenku bilang "masih kok" lantas aku berpikir mungkin aku yang salah lihat. Tapi pikiran salah lihat itu aku buang jauh-jauh setelah menemui cowok itu kedua kalinya, masih dengan celana pendeknya.

Ikhwan lucu, dulu aku menyebut beliau dengan sebutan itu (ehm..ehm..), karena memang penampilan fisiknya imut banget (ehm..ehm..lagi..), seorang ikhwan "Garis Keras", disegani oleh teman-teman kampusnya, dipandang sebagai ikhwan yang paling berprinsip. Beberapa hari yang lalu aku bersamanya jadi peserta di sebuah pelatihan. Hari kedua ikhwan lucu dateng dengan mengenakan celana "ngatung", temen-temenku pada ngga percaya kalau dia ikhwan. Aku berusaha meyakinkan teman-teman "ngga! dia ikhwan kok, kakak kelasku di REMAS dulu". Siang harinya, saat dia haus dia meminta minum temannya dan minum sambil berdiri "oke..gapapa, minum duduk adalah sunnah, Rasululloh juga pernah minum sambil berdiri" kataku dalam hati. Tapi di sore hari saat penutupan, ikhwan lucu berjabat tangan dengan perempuan salah satu trainer kita. Ha? aku cuma kaget, dan kecewa setengah mati tentu saja.

Seorang tetangga, waktu SMA adalah aktivis ROHIS. Bahkan bukan aktivis biasa, sayap da’wahnya melebar ke masyarakat. Dia dan teman-temannya menggarap sebuah TPA (Taman Pendidikan AlQuran) di sebuah daerah bersama teman-teman sekolahnya. Lama tidak bertemu, pria ini kerja di pulau lain. Suatu hari dia meminta tolong adiknya di Jakarta untuk membelikan jilbab yang akan dihadiahkannya untuk pacarnya.

Temanku ngaji sejak SMP, sampai beberapa bulan lalu. Orang yang semangat, tetap aktif di berbagai tempat meskipun kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Sering dilanda sakit kepala hebat, "gejala stroke" katanya suatu hari. Jilbabnya pun lebih panjang dari aku. Amanahnya dimana-mana. Sampai suatu hari, dia tidak lagi datang "ngaji". "Sakit", katanya. Seorang kakakku bilang "aku tadi liat xxx(nama temanku) boncengan sama cowok", dan bukan hanya mba-ku tapi beberapa orang juga melihat dia jalan bareng dengan seorang pria, di berbagai tempat.

Idealnya, seseorang bergerak setelah memiliki pemahaman. Kalau dari ilmu pendidikan, memahami adalah level kedua pada domain kognitif, setelah mengetahui. Maka kalau seseorang sudah paham sejatinya dia juga sudah tahu. Lantas kalau sudah tahu kenapa masih dilakukan? Kemana perginya pengetahuan dan kemana perginya pemahaman?

"Akan selalu kusyukuri nikmat yang telah diberi, petunjuk hidayah suci Illahi Robbi.."–penggalan nasyid The Fikr–

~tidak bermaksud menghakimi

~tidak juga merasa diri ini lebih baik dari orang lain

~sama sekali tidak ingin menjadi orang munafik, aâudzubiLLAH

~hanya speak up my mind

Advertisements

12 thoughts on “Kemana Perginya Pemahaman?

  1. wallahua’alam
    tidak hendak menilai, mengomentari atau memberi label pada orang lain
    bukan hakku, karena saya bukan Tuhan
    tapi sahabat saya mengajarkan agar kita selalu berdoa semoga dihindarkan dari ciri ciri orang munafik
    yang satu waktu mengecam habis habisan suatu peristiwa
    tapi di lain waktu malah melakukannnya sendiri

  2. @ roelworks
    ga kok, aku cari manusia

    @abhicom2001
    sepertinya sebenernya ngga pergi pak, hanya…

    @zeezette
    amin..amin..

    @laxita
    aduh nonjok banget mba..ehm..ehm..jangan-jangan aku begitu ya?
    a’udzubiLLAH min dzaalik, aku berlindung aja deh sama ALLAH semoga terhindar dari sifat munafik

  3. Then…ke mana perginya saudara2nya…? Yg katanya bagaikan satu tubuh…? Yg katanya saling b’taushiyyah…? Yg katanya harus bisa b’empathy…? Ada apa sebenarnya dengan saudara2 kita yg ada dalam postingan PeMi tsb…? Jangan2 mereka sedang ada beban berat…tapi nggak ada saudara2nya yg menerapkan materi tarbiyah "ukhuwwah islamiyah"…? WaLLOHU a’lam… 🙂

  4. pemikirulung said: yang katanya sekarang sudah "ngaji", jadi ketua ROHIS di kampusnya, memakai celana pendek. Aku bingung, tak percaya dengan penglihatanku,

    Nggak usah bingung, Pem… Aku dah b’berapa kali disuguhin fenomena kayak gitu. Dia baru pake celana pendek doang. Yg ngaku dah ngaji tapi nipu…buanyak buanget. Berapa kali aku liat akhwat2 senior di daerah kita yg kalo kluar rumah yg deket2, cuma seadanya… Faham…faham koq…karena mereka bukan malaikat. Tapi kalo kami yg begitu…? Tau sendiri deh… Kalo nggak iqob…ya jadi tulisan kayak PeMi gini deh… 😉

  5. pemikirulung said: yang katanya sekarang sudah "ngaji", jadi ketua ROHIS di kampusnya, memakai celana pendek. Aku bingung, tak percaya dengan penglihatanku,

    aduh pusing…nih tulisan kok jadi kontroversial ya..hu..hu..
    aduh..aduh…gimana dong? aku juga bagian kena iqob kok..tapi iqob-nya dipandang positif aja..
    sama sekali ga pengen menghakimi, hanya mengutarakan kesedihan
    btw udah ku edit tuh, ada tambahan dibawah

  6. pemikirulung said: yang katanya sekarang sudah "ngaji", jadi ketua ROHIS di kampusnya, memakai celana pendek. Aku bingung, tak percaya dengan penglihatanku,

    wah gak bermaksud nonjok mbk Pemi,
    cah ayu ayu gitu kok ditonjok
    gini mbk Pemi, ada satu fenomena yang seriang sita lihat
    terutama waktu di kampus IPB dulu…
    banyak anak yang sering koar koar soal haramnya pacaran, ikhtilat, nuduh yang berjilbab gak sebesar mereka sebagai..bla..bla…bla…
    tapi di lain waktu mereka malah melakukan sendiri
    wallahu alam nyadar atau tidak
    nah, mengatakan sesuatu padahal dibelakang mengingkarinya kan lebih dekat ke tindakan munafik, maka dari itu sita berdoa semoga kita semua di sini bukan orang yang kayak gitu, yaitu orang yang gak bisa megang ucapannya sendiri.
    jadi sama sekali tidak bermaksud mau menonjok mbk Pemi lho yaa…

  7. pemikirulung said: yang katanya sekarang sudah "ngaji", jadi ketua ROHIS di kampusnya, memakai celana pendek. Aku bingung, tak percaya dengan penglihatanku,

    Dengan adanya tulisan dan komentar seperti ini,.,berarti masih ada rasa kepedulian diantara kita untuk saling mengingatkan…

  8. pemikirulung said: yang katanya sekarang sudah "ngaji", jadi ketua ROHIS di kampusnya, memakai celana pendek. Aku bingung, tak percaya dengan penglihatanku,

    dan diingatkan siapapun,trmasuk oleh org yg dianggap munafik,apabila pengingatan tsb adalah kebenaran,maka ia akan tetap menjadi kebenaran…jadi terimalah kritik walaupun pahit

    *komen dari yg terus belajar menerima kritik*

  9. pemikirulung said: yang katanya sekarang sudah "ngaji", jadi ketua ROHIS di kampusnya, memakai celana pendek. Aku bingung, tak percaya dengan penglihatanku,

    terkadang, manusia menganggap dirinya sdh paham, padahal baru sampai tahap tahu.. tahu ini itu ga boleh,krn senior2nya yg diteladani tdk mengerjakan hal tsb,ketika senior2 tsb kemudian berubah,berubahlah yg lainnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s